Skip to content

Tentang Tesis #1: Air Bersih Perkotaan

by on July 13, 2012

When I was in elementary school–probably more than 20 years ago–my family still used hand pump to draw the groundwater from shallow well. We used the groundwater for most of health and hygiene activities such as bathing and cleaning. As for drinking, we boil the groundwater first as a means of sterilization or disinfection.

The place where I lived is in the peri-urban area. The area is too far from city center as well as from village center, so that practically there was no incentive to extend the pipe water network to the place where I lived. Thus, the population have to adapt with that condition.

Slowly but sure, we change norms related to health and hygiene activities using water. In other words, multiple water sources and strategies. The shallow well dried up and we have to dig deeper to find water. And after couple of years, the groundwater is more polluted. From visual observation, the water contains a lot of particulates (so we have to filter that first using used socks) and sometimes the colour is yellowish. For bathing and cleaning, we still use groundwater. For drinking, now we rely on big gallon of bottled water–perhaps around 2 to 4 big gallon every month. As for cooking, my mom prefer to buy water from ambulatory informal water vendor who use cart because she thinks that the water is cleaner than the groundwater but cheaper than the bottled water.

***

Cuplikan tulisan di atas saya sampaikan sebagai pengantar sebuah presentasi dua minggu yang lalu. Presentasi pengantar proposal riset yang akan saya jalani setidaknya sampai satu tahun ke depan. Topiknya masih di sekitar air bersih perkotaan, bagian dari pengalaman saya di Jakarta. Saya ingin membuat penelitian ini jadi personal. Sesuatu yang sangat dekat dengan pengalaman hidup keseharian saya.

Maka, izinkanlah saya bercerita dan berargumentasi berdasarkan pengalaman saya. Posting ini akan memaparkan sebagian dari riset saya dengan cara yang sederhana mungkin. Saya berusaha agar posting ini tak serumit karya ilmiah yang kaku dan sesak oleh referensi serta catatan kaki.

***

Apakah tingkat kemakmuran sebuah negara berbanding lurus dengan layanan air bersihnya? Ya, tapi tidak sepenuhnya benar.

Afrika Selatan, negara yang dihantui xenofobia pasca-apartheid dan persentase pengangguran lebih tinggi daripada Indonesia, bisa memberikan layanan air bersih kelas wahid: air bisa diminum langsung dari keran, dan di Johannesburg, nyaris 100% populasi terlayani.

Zambia dan Kenya, dua negara yang lebih miskin daripada Indonesia menurut takaran GDP per capita, juga memberikan layanan air bersih dengan kualitas air siap minum dari keran.

Apakah privatisasi air, momok yang menghantui Jakarta, selalu menimbulkan kerugian bagi konsumennya? Tidak, tergantung dari tata institusi (institutional arrangement) yang berlaku.

Tahun 2010, saya tinggal selama hampir satu bulan di Baseco, sebuah kampung kumuh di Manila City, Filipina. Manila adalah sebuah kota yang nasibnya serupa dengan Jakarta: semenjak tahun 1997 layanan air bersihnya diprivatisasi. Saat menginap di sebuah posko ormas lokal di kampung kumuh tersebut, saya ‘diajari’ minum air langsung dari keran oleh masyarakat lokal.

Bayangkan, masyarakat sebuah kampung kumuh bisa minum air langsung dari keran dan hidup lebih sejahtera. Tak perlu membeli air dari pedagang air keliling yang harganya bisa lebih mahal 30 kali lipat dari air perpipaan. Meski miskin, salah satu kemewahan dasar (basic luxury) mereka terpenuhi.

Kesimpulan sementara: tingkat kemakmuran sebuah negara dan privatisasi air bersih di tingkat perkotaan bukanlah sesuatu yang iblis dari lahir.

***

Jakarta adalah provinsi dan kota terkaya di Indonesia. Penyumbang pemasukan negara terbesar.

Pasca turunnya Soeharto, Jakarta mengalami privatisasi air bersih. Salah satu pemegang kontraknya adalah perusahaan bentukan Suez, raksasa global asal Perancis. Lantas, muncul penolakan dari beberapa LSM lokal. Perang air didefinisikan sebagai perang melawan privatisasi per se.

Lalu, sebagian besar energi disalurkan untuk menyingkirkan sang perusahaan asing dari tanah pribumi.

Sebentar, apakah ini soal sentimen asing?

Lalu kita lupa bahwa tujuan adiluhungnya adalah memastikan penduduk miskin menerima layanan air bersih setara dengan kelas menengah-atas?

Nasi sudah jadi bubur. Kontrak sudah diteken untuk periode 20-an tahun.

Saya bukan suporter privatisasi. Saya juga bukan fans berat perusahaan publik. Saya kritis terhadap keduanya.

Privatisasi berhasil meningkatkan profesionalitas organisasi air bersih yang dulunya bermental malas khas perusahaan milik negara. Idealnya, air bersih, sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati merata seperti ruang publik, dikelola penuh oleh negara. Masalahnya, PDAM di Indonesia sebagian besar tenggelam dalam hutang dan kinerjanya tak lebih baik daripada kartel tukang gerobak air bersih.

Dan kita lupa bahwa di luar sana, masyarakat miskin kota Jakarta kehausan dan terlanjur terbiasa mengkonsumsi air bersih secara eceran, dengan harga lebih mahal, kualitas lebih rendah.

Masalah air bersih, khususnya di area perkotaan, seperti puzzle yang tak lengkap. Adakah kepingan-kepingan yang hilang?

***

Langkah menggugat hak air lewat Mahkamah Konstitusi adalah sesuatu yang benar, baik, dan luhur. Tapi, sementara itu, kita juga mesti berusaha memastikan penduduk miskin, yang usia harapan hidupnya lebih rendah, yang berpikir makan dan minum cuma untuk besok, bisa hidup lebih sejahtera oleh layanan air bersih yang lebih baik.

Kepingan hilang pertama: masyarakat.

Pilihannya tak cuma publik atau privat. Ada jalan ketiga, komunitas. Atau sederhanya diterjemahkan sebagai kemasyarakatan.

Beberapa LSM mencoba jalan alternatif tersebut.

Beberapa RT di Penjaringan, konon salah satu kampung kumuh terbesar di Indonesia, kini menikmati air bersih perpipaan dengan sistem berbasis masyarakat. Satu meteran air untuk 50-an rumah tangga (yang tidak memiliki dokumen pertanahan karena daerahnya abu-abu). Kini mereka bisa menikmati air bersih langsung dari keran dengan tarif terendah, tak perlu membayar mahal.

Beberapa RT di Kali Deres, kawasan pinggiran Jakarta-Tangerang, bisa memperoleh air bersih perpipaan dengan cara mencicil. Kini, mereka menikmati air bersih dengan harga 1/1000 kali lebih murah.

Kepingan hilang kedua: evolusi institusi.

Cara kita mengkonsumsi air bersih bukanlah sesuatu yang semula-jadi seperti mie instan. Ada perjalanan panjang yang membentuk cara kita mengkonsumsi air bersih.

Tukang air bersih keliling sudah ada sejak era kolonial. Tak heran bila masyarakat (terutama yang miskin) terbiasa untuk mengkonsumsi air dengan cara sedemikian rupa.

Saat air bersih perpipaan tak sampai ke keran di dalam rumah kita, seperti kisah pembuka yang saya sebutkan di atas, maka secara otomatis kita mencari segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Salah satunya adalah memasang pompa air tanah. Padahal, Jakarta makin tenggelam karena tanah di bawah sana kopong karena kita sedot tanpa henti.

Institusi adalah gerak laku manusia yang diulang terus menerus. Untuk memahami cara kita mengkonsumsi air bersih seperti hari ini, kita mesti memahami akar (root) dan alur (trajectory) dari evolusi institusi.

Dengan itu, kita bisa mencari strategi adaptasi yang lebih ciamik di masa depan.

Kepingan ketiga: tata kelola (governance).

Birokrasi kota Jakarta dimaklumi sebagai tata kelola yang ribet. Silang sengkarut. Governance berbeda dengan government.

Governance menuntut partisipasi dan kerja sama dari berbagai pihak, tak melulu pemerintah. Menyandarkan seluruh kerja pada pemerintah sama saja dengan berharap Sangkuriang membangun danau sendirian dalam waktu semalam. Butuh dukungan dari sektor privat dan masyarakat untuk mencapai layanan air bersih yang lebih baik.

***

Perjalanan tesis saya masih begitu panjang ke depan. Seperti kontrak privatisasi yang juga masih menyisakan waktu yang lebih panjang.

Soal air bersih kota Jakarta akan jadi makin menarik dengan latar Pilkada sekarang. Apakah Gubernur baru akan mencipta terobosan dalam pengelolaan air bersih?

Lagi-lagi, kita tak bisa mengharapkan perbaikan hanya dari pemerintah yang secara evolusi sudah kacau balau dan tak peduli masyarakat sedari akarnya.

Berani menempuh langkah alternatif?

From → Indonesia, Jakarta

One Comment
  1. Menarik Dab. Update terus yo perkembangan thesismu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 749 other followers

%d bloggers like this: