Skip to content

Introducing: Peter and John

Selain sebuah apologia, posting ini juga bercerita tentang kehidupan saya di Afrika Selatan.

Saya bukan penulis yang baik dan rajin. Selain karena rendahnya bakat menulis saya, blog ini sudah terbengkalai sekian lamanya karena beberapa hal.

Pertama, perhatian saya yang utama tersedot oleh tesis. Sepanjang proses penulisan tesis, saya dilecut habis-habisan oleh (para) pembimbing supaya tangkas dan gesit menulis dalam Bahasa Inggris. Pelajaran paling berharga dari proses penulisan tesis ini adalah: saya tidak akan pernah bisa berbahasa Inggris secara formal baik secara verbal maupun tekstual dan pencapaian terbaik saya (yang lebih fasih berbahasa Sunda atau Jawa) adalah pidgin atau creole. (Salah satu konsep dalam tesis saya adalah informalitas, dimana saya menyarikan istilah-istilah informal dalam pengelolaan air bersih di Jakarta. Pada titik itu saya semakin menyadari jurang linguistik antara peraturan-peraturan formal dan bahasa informal yang digunakan masyarakat sehari-hari. Mungkin di lain waktu saya akan membahas ini secara khusus.)

Sebagai sebuah bentuk dedikasi pada dera lecutan yang sudah membekas pada diri saya, maka saya tawarkan penulisan dwi-bahasa mulai dari posting ini. Namun, saya mohonkan maklum sedari mula bahwa tulisan saya dalam Bahasa Inggris hanyalah pada tingkatan pidgin atau creole.

Kedua, tak seperti di Mumbai, kehidupan saya di Afrika Selatan semakin jauh dari tajuk blog ini: pengembara kumuh (slum traveller). Saya tinggal di wisma dalam kampus di pinggiran Johannesburg, kota yang tersegregasi ketat secara rasial di era Apartheid. Daerah tempat tinggal saya, Ruimsig, adalah bekas tanah-tanah milik kulit putih yang mulai beralih guna lahan dari farming ke permukiman generik kelas menengah khas area suburban. (Bayangkan lagu Little Boxes, pembuka seri Weeds, dan hamparan perumahan seperti di Agrestic. Ya, perumahan di Ruimsig mirip seperti little boxes tersebut. Bedanya, satu kompleks dengan lainnya terpisah oleh tembok tinggi dan kawat bertegangan tinggi.)

Selain itu, sejujurnya tahun pertama saya tinggal adalah tahun paranoia. Saya mempersepsikan Johannesburg sebagai kota yang sangat menakutkan dan penuh kriminalitas: kecelakaan kendaraan bermotor, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, dst. Saya tak khawatir blusukan kampung kumuh di Jakarta, Manila, atau Mumbai karena saya kenal budaya mereka. Sementara, saya sama sekali tak kenal budaya Afrika dan kulit hitam.

Ketiga, semenjak dua tahunan terakhir, saya mengembangkan kebiasaan baru yang sangat menyedot energi saya: berolahraga secara teratur, untuk hidup yang lebih baik. Tahun pertama adalah tahun yang sangat sulit karena saya tak pernah berolahraga setiap hari kecuali pada saat ospek, dan momen-momen penyiksaan lainnya semasa kuliah di kota Bandung. Di tahun kedua, saya mulai menemukan ritme yang sesuai dan, bahkan, berolahraga adalah salah satu cara ampuh membunuh paranoia saya.

Di tahun kedua saya memutuskan membeli sebuah sepeda, menamainya Charlize, dan menganggapnya sebagai sahabat baik saya. Kemudian, saya mulai memetakan tempat tinggal saya. Ternyata, selain perumahan generik kelas menengah dan peternakan kuda dan burung unta, kampus ini dikelilingi oleh kawasan perumahan elite yang diistilahkan sebagai golf houses karena mengelilingi padang golf, wetland (ini tempat yang paling menyenangkan dan sejuk untuk berlari), tambang, dan, ditengah-tengahnya, sebuah permukiman ilegal.

This is the ostrich farm. (Although I am not keen on ostrich meat)

This is the ostrich farm. (Although I am not keen on ostrich meat)

The wetland. (Ain't this a good place for outdoor running?)

The wetland. (Ain’t this a good place for outdoor running?)

Tak seperti perkampungan kumuh di pusat kota (seperti Jakarta, Manila, atau Mumbai), permukiman ilegal di sini berukuran lebih besar (ada yang seukuran rumah orangtua saya di Bandung) dan ditinggali tidak hanya oleh buruh migran dari luar provinsi, tapi juga dari luar negeri (seperti Zimbabwe atau Lesotho).

Maka, saya mengakhiri posting ini dengan sebuah pengantar untuk posting berikutnya: tentang Peter & John, dua orang sahabat baru saya yang tinggal di perkampungan kumuh tersebut.

Introducing: Peter and John

Introducing: Peter and John

***

Else than an apologia, this posting is about my life in South Africa.

I am not a good writer nor a diligent one. Else than the lack of my writing talent, this blog has been neglected for some reasons.

First, I was consumed by my thesis. During the course of thesis writing, I was whipped by my supervisor(s) to be agile in writing in English. The most valuable lesson from the process of thesis writing is: I (who know more about Sundanese or Javanese) will never be able to speak and write in English formally. At best, I can only do pidgin or creole. (In my thesis, I discuss about informality in which I distill informal terms in Jakarta water supply management. At that point, I realize the linguistic gap between informal rules and everyday languages. Maybe I will discuss about this specifically later.)

As a dedication to the whip marks, I offer bilingual posting from this point. Nevertheless, I hope that it can be accepted although my writing in English is still at pidgin or creole level.

Second, unlike Mumbai, my life in South Africa takes me further from the theme of this blog: slum traveller. I live in an on-campus accommodation in the periphery of Johannesburg, a city that was racially segregated in the Apartheid era. My milieu, Ruimsig, is former white lands that are spatially converting from farming to generic middle-class housings typical of suburban area. (Imagine Little Boxes, the opening of Weeds series. Yes, the housings in Ruimsig are similar to those little boxes. However, here, each complex is separated to the other complex by high walls and high voltage electric security fencings.)

Else than that, honestly my first year was the year of paranoia. I perceived Johanesburg as an unruly city full of criminality: high road accident, rape, burglarly, homicide, etc. I feel safe when I was in slum settlements of Jakarta, Manila, or Mumbai because I am, at least, familiar with the cultures. Meanwhile, I had no clue at all about African/black cultures.

Third, since the last two years, I develop a new habit that greatly consume my energy: regularly working out, for a better life. My first year was a very difficult year since I never workout in daily basis except for some events in my undergraduate in Bandung city. In the second year, I started to find the rhythm and, furthermore, working out is a potent method to kill my paranoia.

In the beginning of the second year, I bought a bicycle, I named her Charlize, and took her as a cavalier. Then, I mapped my milieus. Apparently, else than generic middle-class housings and horse stables and ostrich farming, this campus was surrounded by elite housings called ’golf houses’ since they were surrounding golf ranges, wetland (this is a very nice place for running), a mining, and, amidst those places, there were squatter camps.

Unlike slum settlements in the city centers (e.g. Jakarta, Manila, or Mumbai), the housings in those squatter camps are considerably larger (some of them are larger than my parent’s house in Bandung) and there were not only migrant workers from other provinces of South Africa, but also from neighboring countries (i.e. Zimbabwe or Lesotho).

Unlike slum settlements in the city centers (e.g. Jakarta, Manila, or Mumbai), the housings in those squatter camps are considerably larger (some of them are larger than my parent’s house in Bandung) and there were not only migrant workers from other provinces of South Africa, but also from neighboring countries (i.e. Zimbabwe or Lesotho).

Therefore, I end this posting as an introduction to the next posting: on Peter and John, my new two friends who live in those squatter camps.

Mengenang Mandela

Mandela adalah orang besar di Afrika Selatan. Tak heran bahwa tiap hari ia bisa jadi bagian obrolan ringan sampai diskusi serius. Kemarin, dalam sebuah Pertemuan Pascasarjana, ada sebuah diskusi tentang Afrika Selatan, era Pasca-Apartheid, dan, tentu saja, Mandela.

Pertanyaan pembuka dalam diskusinya kira-kira seperti ini. Mengapa, berbeda dengan sebagian besar negara di Afrika, para bule bisa tetap bertahan di Afrika Selatan dan bahkan dikategorikan sebagai ‘bule pribumi’?

Benar bahwa Mandela berjasa besar dalam rekonsiliasi nasional. Begitu juga de Klerk, Presiden bule South Africa terakhir. Tapi di atas itu semua, desakan internasional yang berpengaruh besar dalam wacana rekonsiliasi dan membentuk gerak sejarah.

Sebagian besar negara di Afrika dan Asia telah merdeka duluan pasca Perang Dunia II. Pasca kemerdekaan, para bule meninggalkan mantan koloni dengan sukarela atau mesti terusir oleh kebijakan nasionalisasi. Saat itu, kepergian dan pengusiran para bule adalah sesuatu yang lumrah diterima sebagai bagian dari nation-building.

Rezim Apartheid di Afrika Selatan berakhir di awal dekade 90-an ketika wacana Hak Asasi Manusia telah menjadi corak dari tata kelola dunia. Atas nama HAM, kepergian dan pengusiran para bule tidak lagi dapat diterima oleh dunia internasional. Para bule dan negro mesti menerima pandangan dunia internasional tersebut bila ingin mempertahankan kedaulatan negaranya. Maka, dari sudut pandang Historical and Political Institutionalism, rekonsiliasi nasional di Afrika Selatan tidak bisa direduksi sebagai jasa Mandela seorang.

***

Tadi malam, Machaya, seorang kawan dari Zambia yang sama-sama berkuliah di Afrika Selatan, mengetuk pintu kamar saya untuk menyampaikan sebuah berita getir: Mandela baru saja meninggal dunia.

Bukan hal yang mengejutkan karena Mandela telah dirawat intensif di Pretoria selama beberapa bulan terakhir.

Tapi tetap saja saya tak bisa menahan sedih. Dan saya meneteskan air mata di tanah Mandela.

Terlepas dari peran Mandela dalam rekonsiliasi Afrika Selatan, ia telah mengajarkan pada dunia tentang maaf dan berhati besar.

Seperti obituari yang ditulis oleh Presiden Ghana: “if we were to move beyond the divisiveness caused by colonization, and the pain of our self-inflicted wounds, compassion and forgiveness must play a role in governance.

Banjir: Kenyataan Di Layar Televisi dan Jalanan

Tulisan ini dibuat pada tanggal 17 Januari 2013, setelah banjir besar menenggelamkan Jakarta dan saya mengelilingi kota dengan sepeda.

***

Pertanda nyata bahwa banjir besar akan menghampiri Jakarta mulai nampak pada hari Minggu, 13 Januari 2013. Menurut pengamatan Badan Sumber Daya Air, tinggi muka air di Bogor sudah melampaui 200 meter, atau Siaga 1.

Bila air di hulu (Bogor) sudah sebegitu banyaknya, hanya masalah waktu, kapan air kiriman tersebut akan sampai hilir (Jakarta). Kombinasikan prakiraan air kiriman dari hulu dengan ramalan cuaca yang memprakirakan bahwa hujan akan konstan mengguyur Jakarta selama seminggu ini. Maka, kemungkinan besar air bah akan segera menggenangi Jakarta.

Semalam hujan rintik-rintik. Pagi hari, suara hujan masih juga terdengar dari dalam kamar.
Kemudian, ada yang aneh dari ritme kerja para penyewa kamar yang lain. Biasanya, pukul 6 terdengar suara langkah-langkah terburu-buru. Hilir mudik bergiliran keluar masuk kamar mandi. Bersiap tampil rapi sesuai citra korporat dan mengejar jam absen.
Pagi ini, sepi. Hanya suara hujan.
Ada yang tak biasa.

Menyalalah televisi berita yang kemudian menjelaskan alasan ketidakbiasaan pagi ini: “Jakarta terkepung banjir”, begitu kata mereka. Berulang kali disiarkan Bundaran Thamrin dan Hotel Indonesia yang tergenang air kecokelatan hingga lebih dari 60 cm. Berulang kali disiarkan masyarakat yang sibuk mengevakuasi diri dari kampung-kampung di dataran rendah seperti Kampung Melayu atau Rawajati. Berulang kali disiarkan tingkah polah para birokrat, mulai dari Presiden yang kebingungan karena kedatangan tamu diplomatik dari
Argentina, hingga sang Gubernur idola, Joko Widodo yang masih gemar blusukan. Dengan diselingi wawancara dengan rupa-rupa manusia, mulai dari orang biasa sampai Direktur perusahaan selular, narasinya serupa: “Darurat Banjir!”

Tapi, media massa bukanlah kenyataan. Televisi berita menyiarkan narasi yang terencana, tentunya dengan bias ideologis masing-masing. Maka, di tengah hari yang mendung, berputarlah roda-roda sepeda. Kenyataan di media massa mesti diperbandingkan dengan kenyataan di jalanan. Dan sang sepedalah kendaraan yang setia menyusuri jalanan,
mencari-cari kenyataan. Tujuannya: menuju Utara Jakarta, dataran terendah dari kota di bawah permukaan laut.

Dimulai dari Karet hingga Tosari, halte Transjakarta sebelum Bundaran HI. Sepeda tak bisa melintas karena sudah nampak jelas genangan air yang merendam Bus Transjakarta yang gagal jalan. Orang-orang justru berkumpul di sekitaran lokasi banjir. Berpacaran di
atas sepeda motor. Berfoto dengan latar belakang banjir. Atau anak-anak yang sekedar bermain-main air.

Sepeda kembali bergerak mencari jalan berputar;
Dari Tanah Abang lalu menyusuri Wahid Hasyim hingga sampai arah Jembatan Lima, pasar plastik tersohor di Jakarta. “Air sudah setinggi leher,” kata seorang laki-laki yang biasa disebut sebagai Pak Ogah. Sepeda pun bergerak menuju Glodok. Gagal. Air mencapai 50 cm juga di perempatan Gajah Mada – Stasiun Kota. Sepeda tak menyerah mesti sempat terendam air di jalur Transjakarta (yang sudah ditinggikan dibanding jalan raya biasa).

Arah Pasar Baru lalu menuju Gunung Sahari – Kemayoran. Gagal juga.
Arah Pasar Pagi lalu menuju Pasar Ikan. Lebih parah.
Baik jalan raya maupun jalur tikus sama-sama terendam.

Ini dia beberapa perbandingan kenyataan di televisi dan jalanan:

1. Banjir dinarasikan sebagai sesuatu yang selamanya merugikan, terutama secara ekonomis.

Bagi para makhluk korporat yang bekerja di Sudirman-Thamrin-Kuningan, kehilangan penghasilan adalah sesuatu yang merugikan. Tapi ada juga yang bersuka cita dalam banjir. Anak-anak dan remaja yang bermain-main, misalnya. Banjir mengubah jalanan menjadi anarki. Kendaraan bisa berbalik arah sesuka hati. Bisa menembus lampu merah. Orang-orang bisa berkeliaran di jalanan.

Banjir menggelitik kenyataan sosial yang terlupakan: orang-orang rindu beraktivitas di ruang publik. Dan sesungguhnya ruang publik sangat mampu berjalan beriringan dengan pencegahan banjir.

2. Banjir dinarasikan sebagai duka bagi masyarakat, yang diwakili oleh sebagian kecil sampel.

Betul bahwa banjir adalah duka bagi masyarakat. Tapi, masyarakat yang mana? Televisi menyiarkan Kampung Melayu, yang sudah menjadi langganan banjir sedari dulu kala.
Lalu masyarakat Utara Jakarta yang sesungguhnya lebih berduka, terlupakan. Akses ke Kampung Melayu, misalnya, masih terjangkau dari beberapa alternatif jalan. Sedangkan akses ke Utara Jakarta nyaris lumpuh total.

Apakah karena Utara Jakarta berisi bangunan tua yang kalah berharga dibandingkan gedung-gedung menjulang di Segitiga Emas?
Apakah karena Utara Jakarta berisi masyarakat berpenghasilan sangat rendah yang kalah penting dibandingkan banjir di Bundaran HI, yang notabene berada di hadapan mall megah?

(Di akhir pekan baru diberitakan besar-besaran korban banjir di Utara Jakarta, Penjaringan misalnya. Keadaannya lebih tragis. Ada yang terperangkap banjir sejak hari Kamis dan tidak ada perahu karet untuk evakuasi. Rumah sakit kehilangan energi dan alat-alat medis tak berfungsi sehingga membahayakan pasien dalam kondisi kritis.)

3. Banjir dinarasikan sebagai wadah berbagai elemen untuk bekerja sama bahu-membahu.

Berbagai aparatus pemerintah diturunkan untuk menghadapi banjir: mulai dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) hingga tentara. Mereka bekerja untuk berbagai fungsi: mulai dari evakuasi hingga pengamanan. Tujuannya: mengayomi masyarakat di daerah yang terendam banjir.

Sementara, ada pula masyarakat yang jadi oportunis. Sebuah bangunan kantor di daerah Pasar Baru, misalnya, menggunakan pompa untuk menghisap air dari basement, lalu dibuang ke jalan raya. Di perempatan Gajah Mada – Stasiun Kota, para Pak Ogah mengarah-arahkan kendaraan untuk berbalik arah menghindarkan banjir dan meminta uang dari kendaraan tersebut. Mengapa para aparatus tak mengantisipasi distorsi negatif dari masyarakat oportunis?

Sepeda lalu berjalan pulang menuju Matraman, Menteng, hingga akhirnya kembali ke Karet. Sempat nampak juga, Bendungan Hilir yang terendam banjir di perjalanan pulang. Masih, pertanyaan-pertanyaan tak henti menggaung.
Banjir, komoditi macam apakah ini? Sejauh mana selisih kenyataan di layar televisi dan jalanan? Apakah ini berarti kita sama-sama kebingungan?
Bila semua bisa dijual, maka banjir pun bisa jadi barang dagangan.

Tentang Tesis #1: Air Bersih Perkotaan

When I was in elementary school–probably more than 20 years ago–my family still used hand pump to draw the groundwater from shallow well. We used the groundwater for most of health and hygiene activities such as bathing and cleaning. As for drinking, we boil the groundwater first as a means of sterilization or disinfection.

The place where I lived is in the peri-urban area. The area is too far from city center as well as from village center, so that practically there was no incentive to extend the pipe water network to the place where I lived. Thus, the population have to adapt with that condition.

Slowly but sure, we change norms related to health and hygiene activities using water. In other words, multiple water sources and strategies. The shallow well dried up and we have to dig deeper to find water. And after couple of years, the groundwater is more polluted. From visual observation, the water contains a lot of particulates (so we have to filter that first using used socks) and sometimes the colour is yellowish. For bathing and cleaning, we still use groundwater. For drinking, now we rely on big gallon of bottled water–perhaps around 2 to 4 big gallon every month. As for cooking, my mom prefer to buy water from ambulatory informal water vendor who use cart because she thinks that the water is cleaner than the groundwater but cheaper than the bottled water.

***

Cuplikan tulisan di atas saya sampaikan sebagai pengantar sebuah presentasi dua minggu yang lalu. Presentasi pengantar proposal riset yang akan saya jalani setidaknya sampai satu tahun ke depan. Topiknya masih di sekitar air bersih perkotaan, bagian dari pengalaman saya di Jakarta. Saya ingin membuat penelitian ini jadi personal. Sesuatu yang sangat dekat dengan pengalaman hidup keseharian saya.

Maka, izinkanlah saya bercerita dan berargumentasi berdasarkan pengalaman saya. Posting ini akan memaparkan sebagian dari riset saya dengan cara yang sederhana mungkin. Saya berusaha agar posting ini tak serumit karya ilmiah yang kaku dan sesak oleh referensi serta catatan kaki.

***

Apakah tingkat kemakmuran sebuah negara berbanding lurus dengan layanan air bersihnya? Ya, tapi tidak sepenuhnya benar.

Afrika Selatan, negara yang dihantui xenofobia pasca-apartheid dan persentase pengangguran lebih tinggi daripada Indonesia, bisa memberikan layanan air bersih kelas wahid: air bisa diminum langsung dari keran, dan di Johannesburg, nyaris 100% populasi terlayani.

Zambia dan Kenya, dua negara yang lebih miskin daripada Indonesia menurut takaran GDP per capita, juga memberikan layanan air bersih dengan kualitas air siap minum dari keran.

Apakah privatisasi air, momok yang menghantui Jakarta, selalu menimbulkan kerugian bagi konsumennya? Tidak, tergantung dari tata institusi (institutional arrangement) yang berlaku.

Tahun 2010, saya tinggal selama hampir satu bulan di Baseco, sebuah kampung kumuh di Manila City, Filipina. Manila adalah sebuah kota yang nasibnya serupa dengan Jakarta: semenjak tahun 1997 layanan air bersihnya diprivatisasi. Saat menginap di sebuah posko ormas lokal di kampung kumuh tersebut, saya ‘diajari’ minum air langsung dari keran oleh masyarakat lokal.

Bayangkan, masyarakat sebuah kampung kumuh bisa minum air langsung dari keran dan hidup lebih sejahtera. Tak perlu membeli air dari pedagang air keliling yang harganya bisa lebih mahal 30 kali lipat dari air perpipaan. Meski miskin, salah satu kemewahan dasar (basic luxury) mereka terpenuhi.

Kesimpulan sementara: tingkat kemakmuran sebuah negara dan privatisasi air bersih di tingkat perkotaan bukanlah sesuatu yang iblis dari lahir.

***

Jakarta adalah provinsi dan kota terkaya di Indonesia. Penyumbang pemasukan negara terbesar.

Pasca turunnya Soeharto, Jakarta mengalami privatisasi air bersih. Salah satu pemegang kontraknya adalah perusahaan bentukan Suez, raksasa global asal Perancis. Lantas, muncul penolakan dari beberapa LSM lokal. Perang air didefinisikan sebagai perang melawan privatisasi per se.

Lalu, sebagian besar energi disalurkan untuk menyingkirkan sang perusahaan asing dari tanah pribumi.

Sebentar, apakah ini soal sentimen asing?

Lalu kita lupa bahwa tujuan adiluhungnya adalah memastikan penduduk miskin menerima layanan air bersih setara dengan kelas menengah-atas?

Nasi sudah jadi bubur. Kontrak sudah diteken untuk periode 20-an tahun.

Saya bukan suporter privatisasi. Saya juga bukan fans berat perusahaan publik. Saya kritis terhadap keduanya.

Privatisasi berhasil meningkatkan profesionalitas organisasi air bersih yang dulunya bermental malas khas perusahaan milik negara. Idealnya, air bersih, sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati merata seperti ruang publik, dikelola penuh oleh negara. Masalahnya, PDAM di Indonesia sebagian besar tenggelam dalam hutang dan kinerjanya tak lebih baik daripada kartel tukang gerobak air bersih.

Dan kita lupa bahwa di luar sana, masyarakat miskin kota Jakarta kehausan dan terlanjur terbiasa mengkonsumsi air bersih secara eceran, dengan harga lebih mahal, kualitas lebih rendah.

Masalah air bersih, khususnya di area perkotaan, seperti puzzle yang tak lengkap. Adakah kepingan-kepingan yang hilang?

***

Langkah menggugat hak air lewat Mahkamah Konstitusi adalah sesuatu yang benar, baik, dan luhur. Tapi, sementara itu, kita juga mesti berusaha memastikan penduduk miskin, yang usia harapan hidupnya lebih rendah, yang berpikir makan dan minum cuma untuk besok, bisa hidup lebih sejahtera oleh layanan air bersih yang lebih baik.

Kepingan hilang pertama: masyarakat.

Pilihannya tak cuma publik atau privat. Ada jalan ketiga, komunitas. Atau sederhanya diterjemahkan sebagai kemasyarakatan.

Beberapa LSM mencoba jalan alternatif tersebut.

Beberapa RT di Penjaringan, konon salah satu kampung kumuh terbesar di Indonesia, kini menikmati air bersih perpipaan dengan sistem berbasis masyarakat. Satu meteran air untuk 50-an rumah tangga (yang tidak memiliki dokumen pertanahan karena daerahnya abu-abu). Kini mereka bisa menikmati air bersih langsung dari keran dengan tarif terendah, tak perlu membayar mahal.

Beberapa RT di Kali Deres, kawasan pinggiran Jakarta-Tangerang, bisa memperoleh air bersih perpipaan dengan cara mencicil. Kini, mereka menikmati air bersih dengan harga 1/1000 kali lebih murah.

Kepingan hilang kedua: evolusi institusi.

Cara kita mengkonsumsi air bersih bukanlah sesuatu yang semula-jadi seperti mie instan. Ada perjalanan panjang yang membentuk cara kita mengkonsumsi air bersih.

Tukang air bersih keliling sudah ada sejak era kolonial. Tak heran bila masyarakat (terutama yang miskin) terbiasa untuk mengkonsumsi air dengan cara sedemikian rupa.

Saat air bersih perpipaan tak sampai ke keran di dalam rumah kita, seperti kisah pembuka yang saya sebutkan di atas, maka secara otomatis kita mencari segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Salah satunya adalah memasang pompa air tanah. Padahal, Jakarta makin tenggelam karena tanah di bawah sana kopong karena kita sedot tanpa henti.

Institusi adalah gerak laku manusia yang diulang terus menerus. Untuk memahami cara kita mengkonsumsi air bersih seperti hari ini, kita mesti memahami akar (root) dan alur (trajectory) dari evolusi institusi.

Dengan itu, kita bisa mencari strategi adaptasi yang lebih ciamik di masa depan.

Kepingan ketiga: tata kelola (governance).

Birokrasi kota Jakarta dimaklumi sebagai tata kelola yang ribet. Silang sengkarut. Governance berbeda dengan government.

Governance menuntut partisipasi dan kerja sama dari berbagai pihak, tak melulu pemerintah. Menyandarkan seluruh kerja pada pemerintah sama saja dengan berharap Sangkuriang membangun danau sendirian dalam waktu semalam. Butuh dukungan dari sektor privat dan masyarakat untuk mencapai layanan air bersih yang lebih baik.

***

Perjalanan tesis saya masih begitu panjang ke depan. Seperti kontrak privatisasi yang juga masih menyisakan waktu yang lebih panjang.

Soal air bersih kota Jakarta akan jadi makin menarik dengan latar Pilkada sekarang. Apakah Gubernur baru akan mencipta terobosan dalam pengelolaan air bersih?

Lagi-lagi, kita tak bisa mengharapkan perbaikan hanya dari pemerintah yang secara evolusi sudah kacau balau dan tak peduli masyarakat sedari akarnya.

Berani menempuh langkah alternatif?

Joburg #01

Dua bulan lewat sudah semenjak pertama kali mendarat di OR Tambo. Selama itu, banyak yang saya mulai fahami dari kota ini. Ritme dan perilakunya.

Ini yang terjadi dan terangkumkan dalam dua bulan.

Tercatat, angka kecelakaan kendaraan bermotor yang terlalu tinggi. Satu orang staf patah tulang rusuk dan satu orang kolega sejurusan masih menjalani fisioterapi. Konon, setidaknya satu dari tujuh orang di Joburg mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. (Bahkan ketika saya sedang memulai mengetik posting ini, sebuah mobil baru saja nyungsep di semak-semak yang berseberangan jalan dengan pagar wisma.) Menghindari kecelakaan secara statistik adalah insentif untuk membatasi penggunaan kendaraan bermotor, memprioritaskan berjalan kaki, dan menghemat pengeluaran.

Soal kriminalitas, seorang kolega kemalingan ponsel dan seorang lagi ditodong di perjalanan pulang dari kampus. Keduanya merasa kehilangan tapi makin lama makin reda. Keduanya merefleksikan bahwa insiden tersebut adalah bagian dari adaptasi hidup di kota ini.

Semua itu terjadi dalam dua bulan.

Mungkin itu yang dirasa oleh para alien di kota ini. Terasing dalam xenofobia individualis oportunistik.

Saya menyerap paranoia dan menerimanya sebagai pengalaman keseharian.

Surga di pojokan Joburg: Modderfonteinspruit

Surga di pojokan Joburg: Modderfonteinspruit

Neraka yang menggoda

Neraka yang menggoda

Paranoia yang berbanding terbalik dengan Modderfontein, sebuah kawasan konservasi di area perkotaan. Di pojokan Joburg, ada hutan berikut wetland dan sungai. Damai. Takjub. Sekaligus absurd. Di luar sana, dunia ramai oleh kecelakaan kendaraan bermotor dan kriminalitas.

Sebelum menjadi kawasan konservasi, Modderfontein adalah area industri eksplosif yang mendukung industri pertambangan. Sekarang, sebuah perusahaan properti memiliki lahan kawasan konservasi seluas 275 hektar tersebut.

Perusahaan properti dan konservasi adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. Sama seperti kecelakaan kendaraan bermotor dan kriminalitas yang berbanding terbalik dengan ketenangan di hutan kota.

Seperti surga dan neraka yang berdampingan dan tercampur di satu ruang yang sama.

Mungkin itulah ritme kota ini. Pertentangan: mesin pembuat mimpi bagi warga kota.

Systematic Approach in Developing Spatially Explicit Freshwater Conservation Plan

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari studi saya di Monash South Africa dan membahas pendekatan sistematis dalam proses perencanaan konservasi freshwater yang eksplisit secara spasial. Afrika Selatan adalah sebuah negara berkembang yang mampu mencapai prestasi yang sangat baik dalam bidang pengelolaan air minum (tidak lagi air bersih): 97% populasi terkoneksi dan bisa diminum dari kran. Selain itu, Afrika Selatan juga menjadi salah satu yang terdepan dalam konservasi terestrial dan laut, lalu sekarang menjadi pionir dalam systematic freshwater conservation–sebuah bidang yang baru muncul sekitar satu dekade lalu.

Introduction

Freshwater conservation is about dedicating water for environment to achieve long-term goals of ensuring water availability in terms of quantity and quality. It benefits water supply treatment economically by minimizing cost to treat source water and technically by reducing maintenance cost.Compared to terrestrial and marine conservation, freshwater conservation approach calls for departure from physically confined notion and embodiment of conservation area, of which Dudgeon et. al. (2007) called it as ‘fortress conservation’. This article explores the possibility of developing a freshwater conservation area, with its complex dendritic structure which is non-linear and networked rather than planar, under systematic approach.

Understanding the Systematic Approach to Conservation Planning

Pioneered by its application in terrestrial ecosystems, systematic conservation planning is formally initiated in the 1980s (Kirkpatrick 1983; and Ackery and Vane-Wright 1984 in Pressey 1999) and afterward triggered prolific academic publications, with R.L. Pressey as one of the central proponents. Previously, conservation biology relied heavily on pragmatic experts skill and experience. Concomitant with technological improvement, systematic conservation planning critically deconstructs and decentralizes knowledge of experts into a protocol of structured form of scientific field by minimizing biases with sets of applicable toolkits, characterized by its efficiency and explicitness. It embraces the equality of features, be it ecological landscape or species.

Margules and Pressey (2000) delineated distinctive characteristics of systematic conservation planning: clear options of surrogates of overall biodiversity; based on explicit goals translated into quantitative and operational targets; recognizing achievement of conservation goals in existing reserves; simple and explicit methodology for locating and designing new reserves as complement to existing; explicit criteria for implementation by considering the impossibility of protection of all areas; and explicit objective and mechanism for maintenance. Roux et. al. (2002) applied those distinct features of systematic approach for river types and processes as contiguous ecological unit linked with terrestrial area prioritization, which was considered as the first inception of peer-reviewed article of freshwater systematic approach by Linke et. al. (2011). Nel et al. (2009) catered three overarching principles of systematic approach for freshwater conservation: representation, conserving the wide spectrum of biodiversity features using surrogate as medium for indicating freshwater biodiversity in coarse (broad) and fine (narrow) scale; persistence, maintaining innateness of natural processes that support and generate biodiversity; setting quantitative targets, tangibility of conservation goals.

There are 6 standard stages in the process of systematic conservation planning described in detail by Margules and Pressey (2000): first stage, data compilation, measurement and map biodiversity; second stage, identify conservation goals for the planning region; third stage, review existing reserves; fourth stage; select additional reserves; fifth stage, implement conservation actions on the ground; sixth stage, management and monitoring of reserves. Based on a conservation project in Cape Floristic Region, South Africa, Pressey and Cowling (2003) added 3 additional preliminary stages: identifying potential stakeholders for active participation; assessment of socioeconomic and political context to identify opportunity and constraint for implementation; and identification of broader conservation goals which has been formulated in policy or by experts.

Opportunism is a global tendency to allocate space for conservation in non-primary location due to external pressures, for instance ad-hoc political pragmatism, and systematic approach is an empirical way to move beyond it (Pressey et. al. 2003). Under the criticism of “uninformed opportunism” by Knight and Cowling (2007), which stressed out the dilemma of competition between value of land-use for conservation versus other economically valuable purposes as an unforeseen threats, Pressey and Bottrill (2008) developed a larger framework with 2 additional preliminary steps: scoping and costing of the planning process; and collecting and evaluating socio-economic data.

Systematic conservation plan for freshwater ecosystems is a relatively new field which was developed since about a decade ago and formerly was being criticized for its strong but thirst data-driven `approach. Linke et. al. (2011) argued that progress in data collection and modelling is able to cope with and surpass that problem. Nonetheless, considering the complex non-linear and networked nature of freshwater ecosystems, there should be an adaptation on steps in developing a systematic conservation plan. These steps embrace the principles of systematic approach for freshwater conservation by including plan for representation, persistence, and setting quantitative conservation targets, incorporated under the nature of freshwater ecosystem: dendritic and networked connectivity.

The Purpose of Developing Spatially Explicit Conservation Plans

Developing spatially explicit conservation plans is part of the larger steps of systematic conservation planning, which will be described further and focused on freshwater context, whether fresh or saline. Thanks to the development of geodetic and geomatics technology, geographic information system and remote sensing, as an elemental tool in analyzing and presenting explicit spatial planning, support direct field observation, which has been done mostly in the past by expert who are prone to geographical and taxonomical biases (Margulles and Pressey 2000). Spatially Explicit Population Models (SEPM), which was developed in the 1990s for terrestrial uses, interpreted ‘explicit’ as combination of  population prediction with landscape map, aimed to describe spatial distribution of different features based on life cycle and migratory patterns of different species (Dunning et al. 1995). Taylor et al. (1993) proposed connectivity, a measurement of facilitation or impediment of natural organism movement in a certain landscape, as a vital element of spatial explicitness. Margules and Pressey (2000) elaborated such explicitness within the structured framework for systematic conservation planning and argued that, with its distinctive characteristics, explicit methodological approach produces explicit conservation plans. Subsequently, Pressey (2004) argued that explicitness is the essence of systematic conservation planning, rather than objectivity. It is more about clarity of conservation plans by reflecting the principles of representativeness, persistence, and quantitative targeting.

Conservation plans are the result of planning activity which contain the constant process of identification, configuration, implementation, maintenance, management, and monitoring and evaluation of certain areas (Margulles and Pressey 2000; Pressey et al. 2007). Given socioeconomic limitations, it is impossible to conserve all species and ecosystems. Specific space should be given higher priority compared to other areas to conserve biodiversity at the scale of intra- and interregional level (Ferrier 2002). At the same time, prioritization should consider connectivity of abiotic (spatial structure) and biotic components in longitudinal, lateral, and vertical orientation (Figure 1) which are substantive for freshwater ecosystems (Nel et al. 2009). Although the degree of spatial bias affects reliability of spatial model, Pressey et al. (2007) argued that spatiality is built-in element in conservation planning. Hence an explicit spatial prioritization is imperative to achieve the most optimum scenario—cost effectiveness and saving time—in the decision making of conservation planning. Nel et. al. (2009) highlighted the concept of complementarity, iterative contribution of additional site or set of areas to biodiversity content, as a means of optimization. Technically, the purpose of developing spatially explicit conservation plan is to achieve optimization and connectivity between different features of ecosystem and species.

Practically, using best available science, spatially explicit conservation planning is useful as guidance for different parties involved along the social process, increasing effectiveness of freshwater conservation (Roux et al. 2008). With its clarity, it serves as visually aesthetic and easily digested materials particularly for non-expert audiences. Moreover, spatially explicit conservation plans provide an opportunity for evaluation and refinement in the future by involving strategic stakeholders.

Conclusions

Systematic conservation planning is not a universal remedy, free from uncertainties. Systematic conservation planning requires careful consideration of connectivity and integrity of freshwater with terrestrial and marine species and ecology which are embedded with uncertainties of spatiotemporal effects (Pressey et. al. 2007; Nel et al. 2009; Linke et al. 2011). It requires a more holistic, cradle-to-grave approach. A valuable exercise has been done on the hypothetical redesign of Kruger National Park in which a conservation area might be developoed terrestrially in the past without the availability of knowledge about interrelationship of different spatial features but there is a possibility to recreate and redefine conservation area in which freshwater ecosystem seams the spatial realm, of course, with a socio-economic and political trade-offs (Roux et. al. 2008). In the word of Margules and Pressey (2000): “New developments (in all the planning stages) will progressively reduce, but never eliminate, these uncertainties.”

References

Dudgeon D, Arthington AH, Gessner MO, Kawabata Z, Knowler DJ, Le´veˆque C, Naiman RJ, Prieur-Richard A, Soto D, Stiassny MLJ, Sullivan CA. 2006. Freshwater biodiversity: importance, threats, status and conservation challenges. Biological Reviews 81: 163–182.

Dunning Jr. JB, Stewart DJ, Danielson BJ, Noon BR, Root TL, Lamberson RH, Stevens EE. 1995. Spatially Explicit Population Models: Current Forms and Future Uses. Ecological Applications 5(1):3-11.

Knight, AT, and Cowling RM. 2007. Embracing opportunism in the selection of priority conservation areas. Conservation Biology 21:1124–1126.

Linke S, Turak E and Nel J. 2011. Freshwater conservation planning: the case for systematic approaches. Freshwater Biology 56: 6-20.

Ferrier S. 2002. Mapping spatial pattern in biodiversity for regional conservation planning: Where to from here? Systematic Biology 51(2):331–363.

Knight, A. T., and R. M. Cowling. 2007. Embracing opportunism in the selection of priority conservation areas. Conservation Biology 21:1124–1126

Margules CR, Pressey RL. 2000. Systematic conservation planning. Nature 405: 243–253.

Nel JL, Roux DJ, Abell R, Ashton PJ, Cowling RM, Higgins JV, Thieme M and Viers JH. 2009. Progress and challenges in freshwater conservation planning. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems 19: 474–485.

Pressey RL. 1999. Systematic conservation planning for the real world. Parks 9(1):1-6

Pressey RL, Cowling RM, Rouget M. 2003. Formulating conservation targets for biodiversity pattern and process in the Cape Floristic Region, South Africa. Biological Conservation 112: 99–127.

Pressey RL. 2004. Conservation planning and biodiversity. Conservation Biology 18(6):1677-1681.

Pressey RL, Cabeza M, Watts ME, Cowling RM, Wilson KA. 2007. Conservation planning in a changing world. Trends in Ecology and Evolution 22(11): 583-592

Pressey RL, Bottrill MC. 2008. Opportunism, threats, and the evolution of systematic conservation planning. Conservation Biology, 22(5): 1340–1345

Taylor PD, Fahrig L, Henein K, Merriam G. 1993. Connectivity is a vital element of landscape structure. Oikos 68(3): 571-573.

Roux D, Moor Fd, Cambray J, and Barber-James H. 2002. Use of landscape-level river signatures in conservation planning: a South African case study. Conservation Ecology 6(2): online.

Roux DJ, Ashton PJ, Nel JL and MacKay HM. 2008. Improving cross-sector policy integration and cooperation in support of freshwater conservation. Conservation

Dari Ramayana Sampai Johannesburg

Migrasi Out of Africa adalah pengembaraan pertama manusia modern. Sebuah perjalanan yang mengubah dunia. Sejak saat itu, sepertinya traveling menurun secara genetis hingga hari ini. Sejak saat itu, manusia menghimpun pengetahuan yang diperoleh di sepanjang perjalanannya dalam kisah-kisah yang ditularkan dari generasi ke generasi.

Traveling, pada awalnya, adalah sebuah perjalanan mitologis spiritual. Mistis. Misterius. Religius. Salah satu jurnal perjalanan tertua adalah Ramayana (Rama’s travel), sebuah pengembaraan ruang dalam kerangka perang antara Kebaikan dan Kejahatan. Bagi agama-agama Semitik, Rama dan Sita berperan serupa Adam dan Hawa yang diturunkan dari Taman Eden di tempat yang terpisah. Siddhartha Gautama menuntaskan perjalanannya dan menjadi Buddha. Kisah klasik Journey to the West bercerita tentang penjemputan kitab Buddha di India oleh sang Kera Sakti, Sun Wukong–tokoh yang terinspirasi dari tokoh Hanuman dari Ramayana.

Kisah-kisah tersebut menginspirasi manusia untuk terus melangkah dan menambah pengetahuan dari perjalanannya. Tak cukup puas dengan perjalanan mitologis, para pengembara memilih menjelajahi Bumi lebih luas lagi untuk mencari penjelasan akan kebenaran.

Saat pertukaran informasi masih begitu terbatas, cerita-cerita dari negeri jauh yang dibawa para pengembara adalah oase. Mereka membawa dunia lain. Sebuah dunia yang jauh dari jangkauan dan sebelumnya hanya disampaikan lewat kisah-kisah  mitologis. Para pengembara melihat dengan mata kepalanya sendiri, ada apa di luar sana. Pada abad ke-10, seorang pengembara Arab bernama Ahmad ibn Fadlan mencatat pengorbanan manusia dalam ritual penguburan perahu Viking. Dua ratus tahunan kemudian, Marco Polo mencatat perjalanannya ke Asia Tengah dan Cina serta memperkenalkannya pada Eropa yang sedang berada dalam Abad Kegelapan.

Pelan tapi pasti, manusia menghubungkan penjelajahan dengan penguasaan. Profit. Penjelajah terjauh dan terluas tidak lagi hanya pulang membawa cerita-cerita dari negeri jauh. Mereka membawa buah tangan yang bisa dijual ke pasar. Traveling terhubung sempurna dengan pasar. Lahirlah imperialisme: Gold, Gospel, Glory. Korporasi-korporasi pelayaran–yang dipandu para pelaut seperti Colombus, Magellan, dan Cortez–menancapkan patok-patoknya di atas terra incognita. Budak-budak kulit hitam melintasi samudera untuk hidup di tanah baru bersama kulit putih.

***

Traveling dan mobilitas sosial

Hari ini, traveling adalah gaya hidup. Berkat teknologi, traveling semakin cepat, mudah, dan terjangkau. Meski dengan motivasi-motivasi yang serupa:perjalanan mitologis, pencarian kebenaran, hingga profit. Seperti ziarah modern yang terfasilitasi biro travel profesional. Seperti para pelajar internasional yang terfasilitasi beasiswa. Seperti sebuah tiket penerbangan murah yang kita nikmati bersama-sama.

Bagi Levi-Strauss, traveling bukan sekedar perpindahan ruang. Traveling bergerak pada lima sumbu; tiga dimensi spasial, waktu, dan hirarki sosial. Bersama-sama dengan pergerakan fisik dan panah waktu, seorang pengembara juga mengalami mobilitas sosial.

Traveling modern berkisah tentang perjalanan sosial sang pengembara. Seorang pekerja seks komersial korban trafficking. Seorang buruh migran yang dicekam ancaman kekerasan. Seorang manusia kota yang bertemu dengan masyarakat tribal. Seorang kekasih yang terpisah dari keluarganya demi ‘masa depan yang lebih baik’. Seorang seniman yang (ingin) go international. Seorang pelaut yang terdampar akibat kapal tanker karam. Seorang penggila K-Pop yang berjuang mengejar beasiswa ke Seoul. Seorang calon dosen yang mengajak keluarga kecilnya berlibur ke Eropa. Siapapun anda, anda berhak berbagi cerita. Siapapun anda, anda berhak menjadi pengembara.

Bagi keluarga saya, bepergian ke luar negeri pernah menjadi sesuatu yang terlarang. Sebab kakek adalah seorang eks tahanan politik. Ayah saya pernah batal memperoleh sebuah beasiswa. Sekarang, saya mencoba menghidupi mimpi-mimpinya yang sudah mati.

Tiga tahun yang lalu, saya menikah dengan seorang ekspatriat Indonesia yang bekerja di Malaysia, dan kami berhenti bekerja tetap. Selama tiga bulan kemudian kami memulai perjalanan dengan Kapal PELNI dari Tanjung Priok menuju Pontianak. Menyusuri Sarawak, Brunei Darussalam, dan Sabah. Melambung ke Manila, Filipina dan sekali lagi melambung ke Hong Kong – Makau. Lalu kehabisan uang. Mampir sebentar di Malaysia. Pulang ke Indonesia dengan perasaan mencandu. Kami melewati 1 tahun kemudian dengan sebuah pameran kecil perjalanan kami di Yogyakarta.

Setelah itu, kami terdampar di Mumbai, kota maksimum. Saya merasa seperti seorang dari Kuala Lumpur yang terkejut dengan padatnya Jakarta. Ternyata, ada yang lebih Jakarta daripada Jakarta. Kami hidup layaknya kelas menengah Mumbai, tinggal berdesakan di flat dengan ukuran kamar 24 meter persegi. Kami ikut berjuang menerobos pintu masuk kendaraan umum bersama-sama penumpang-penumpang lain yang berebutan.

Hari ini, kami ada di persimpangan. Saya sedang bersiap berkuliah lagi di Johannesburg, Afrika Selatan. Sebuah tempat yang tidak saya kenal. Sebuah benua asing. Perjalanan kami masih terus berlanjut. Roda kehidupan masih terus berputar.

Cerita perjalanan kami mungkin tidak terlalu istimewa dibandingkan para pengembara lain. Kami tak pernah menjelajahi banyak negara. Kami tak pernah hidup di negara asing dalam waktu yang panjang. Tapi, bagi kami, traveling adalah sesuatu yang sangat berarti. Traveling adalah simbol kebebasan kami. Kami ingin merekam cerita-cerita perjalanan kami untuk diceritakan ulang pada anak cucu, bila tak mampu menerbitkan sebuah buku. Kami ingin berbagi sebuah kemungkinan: tanpa peduli latar belakang sosioekonomi, siapapun bisa menjadi warga dunia.

Saat ini yang ada di benak saya: apakah Rama dan Sinta akan bersatu kembali di Johannesburg? Atau tempat lain?

Aside

Dear Bombay/Mumbai

Hello,

It has been almost 1 year I spend my life in you.

My morning ritual: a cup of special-chai. Optional: a plate of of cheese dosa with sambar, no chutney please. Second optional: vada or sandwich. There you go. Soon I become adapted with ‘veg’ breakfast routine. No need to rush the fresh body with meat.

This is a ‘vada-pau eater’ city anyway. Street foods with veg menu may open 24 hours. But not the same way with non-veg menu. Seeing a smoky kebab stall in the early morning is a suicidal mental note. The rhythm of this city manages optimum measurement for citizen diets.

Eat well, live well.

But well, it is a lifestyle imagined by social construction.

And you taught me one important lesson: it is all about ‘supply’ and ‘demand’. More vegetable consumers. Cheaper price. Better quality. Wider range of products. That is the case of ‘vada-pau’ eater city and the vegetarian nation.

This posting is dedicated to you, yeh hai Bombay meri jaan. The city who taught me frugality and the meaning of “public” in a ‘subtle’ way.

***

Kehidupan saya di Mumbai adalah kehidupan frugal, meski tak terlalu ekstrim. Menjadi frugal karena keadaan, bukan pilihan. Saya menganggap ini adalah sebuah latihan menjadi warga sipil yang lebih beradab. Nyaris setahun saya hidup di sebuah tempat tinggal tanpa televisi, mesin cuci, kulkas, apalagi AC. Bepergian hampir seratus persen dengan transportasi publik, kecuali menumpang kendaraan pribadi kolega yang bisa dihitung dengan jari.

Tanpa televisi, untungnya ada internet yang jauh lebih cepat daripada di Indonesia. Tanpa mesin cuci, untungnya masih ada sepasang tangan yang masih cukup kuat. Tanpa kulkas, untungnya saya selalu memasak dan makan makanan segar. Tanpa AC, untungnya ada dua kipas besar di langit-langit yang berjuang keras mengusir hawa panas, dan sebuah kipas duduk yang tak terpakai karena musim dingin Desember hingga Januari menuntut selimut. Tanpa kendaraan pribadi, untungnya ada transportasi publik yang aksesibel, terjangkau, tepat waktu, dan layak.

***

Jakarta punya bajaj, ojek, bus, Trans Jakarta, kereta api, taksi, dan sebuah rencana monorail. Macet luar biasa adalah makanan keseharian—kecuali akhir pekan dan hari-hari tertentu. Manila punya jeepney, tricycle, bus, taksi, dan MRT yang sudah dibangun sejak era Marcos, tahun 1984. Walau memiliki MRT, Manila tak jauh berbeda macetnya dengan Jakarta.

Mumbai punya taksi, rickshaw, bus, kereta api, dan juga sebuah rencana monorail (konon akan selesai tahun 2012 tapi masih tertunda). Tapi, macet hanya terjadi di jam-jam padat saja. Meski orang-orang Mumbai masih mengeluhkan macetnya kota ini, percayalah bahwa Jakarta adalah neraka kemacetan.

Tanpa kemegahan kosmetik modernitas kota dalam bentuk ‘kereta melayang’, Mumbai bisa menyediakan layanan transportasi publik yang lebih baik dengan mengandalkan keandalan sistem meski teknologi terbatas. Tantangannya: tarif transportasi publik yang terjangkau tanpa mengorbankan kenyamanan terlalu banyak.

Seluruh taksi di Mumbai harus bermeter, mulai dari yang analog sampai digital. Meter analog menggunakan sistem harga satuan, 16 rupees (sekitar 3200 rupiah) untuk satu poin pertama. Bila di akhir perjalanan tertera poin meteran ‘2.50’ berarti jumlah yang harus dibayarkan adalah dua setengah kali 16 rupees. Tapi, hanya taksi Fiat tua yang menggunakan meter analog. Taksi-taksi yang lebih baru (dan lebih nyaman) memasang meter digital, dengan angka awal 16 rupees. Sangat murah dibandingkan dengan taksi di Jakarta. Kompensasinya, taksi-taksi tersebut tidak menggunakan AC sama sekali—angin dari jendela terasa sejuk di musim dingin dan surga di musim panas—serta berbahan bakar gas. Pada jam-jam tertentu, taksi kadang tak bisa melayani pelanggan karena antrean panjang pengisian bahan bakar gas yang memakan waktu lebih lama daripada bahan bakar cair.

Taksi-taksi yang saya sebutkan di atas adalah armada bercat kuning-hitam. Bagi yang menghendaki kenyamanan lebih, bisa menaiki armada bercat biru-putih dengan meter awal yang tentunya lebih mahal.

Rickshaw memiliki bentuk serupa bajaj di Jakarta. Sama seperti taksi non-AC, armadanya bercat kuning-hitam dan menggunakan meter, meski sebagian besar analog—dengan nilai 13 rupees untuk tiap poin meteran. Saya jarang menggunakan rickshaw karena tinggal di ‘bagian dalam’ kota Mumbai. Rickshaw hanya boleh beroperasi di ‘bagian luar’ kota Mumbai, daerah suburban.

BEST adalah institusi publik otonom yang mengelola bus—sekaligus listrik—kota Mumbai. Seratus persen milik publik—berkebalikan dengan transportasi publik di New Delhi yang lebih terprivatisasi.

Selain kuning-hitam, saya mengasosiasikan warna merah-putih dengan transportasi publik di Mumbai. Warna tersebut adalah warna baku dari bus non-AC yang biasanya saya naiki.  Baru sebagian kecil bus yang sudah ber-AC. Tiketnya pun berlipatkali lebih mahal daripada bus non-AC yang jumlahnya jauh lebih banyak. Bus hanya berhenti sesaat di halte, pantang menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat (area bus stop adalah area sakral perhentian terlarang bagi taksi dan kendaraan pribadi). Di halte, ada papan petunjuk nomor kode bus, separuh dalam aksara Hindi, separuh lagi dalam aksara Latin. Cuma angka-angka saja tanpa ada peta. Lalu ke mana kita mencari jadwal  dan peta jalur bus? Beruntung, GoogleMap di kota ini bekerja dengan baik. Cukup masukkan titik awal dan tujuan akhir kemudian aplikasi tersebut akan menawarkan beberapa rute bus berikut perkiraan jadwalnya. Setelah bus datang dan kita masuk dari pintu belakang, seorang kondektur akan datang dengan alat ticketing digital. Sebutkan tujuan perjalanan, serahkan selembar uang, dan sang kondektur akan mencetak tiket lalu memberikan kembalian. Tujuh rupees (sekitar 1500 rupiah) untuk perjalanan 3,4 km selama 10 menitan. Sangat terjangkau untuk transportasi harian para pekerja.

Dari GoogleMap pula, kita bisa memperoleh informasi tentang jadwal dan jalur kereta api. Bagi yang ingin berlangganan dan memperoleh kartu magnetik, bisa membeli dan mengisi ulang di stasiun. Kartu magnetik tersebut bisa digunakan pada mesin ticketing elektronik yang berada di dekat loket karcis biasa. Ada dua pilihan kelas tiket: kelas I dan II. Bedanya: kelas I lebih lega, kelas II lebih banyak penumpang. Persamaannya: keduanya menggunakan sistem penghawaan kipas angin dan pintu yang selalu terbuka lebar. Setelah memperoleh tiket dan menunggu di platform yang tepat, kita bisa melihat kode kedatangan kereta yang tertera di papan elektronik. Bagi perempuan yang ingin menaiki gerbong khusus bisa menunggu di area platform dengan tanda perhentian Ladies Couch. Setelah berjejalan masuk gerbong, berdiri atau duduklah dengan tenang. Jalur rel dan jalan raya di Mumbai sudah tidak berpotongan lagi. Berbagai flyover telah dibangun untuk mencegah pertemuan kereta dan kendaraan bermotor.

***

Kota ini memang jauh dari sempurna. Tapi saya bisa belajar menghargai dan menggunakan transportasi publik dengan lebih baik. Ada rasa yang berbeda dari kata “publik”. Sebuah kata yang istimewa sebab di Indonesia kata tersebut terlampau disakralkan atau malah diabaikan. Saya sendiri merasa kering imajinasi bila berhadapan dengan kata tersebut. Sampai saat ini, setidaknya transportasi dan ruang “publik” di Indonesia masih berada di tingkat angan-angan semata.

“Kahin building, Kahin tramen, Kahin motor, Kahin mill, milta hai yahan sub kuch, ek milta nahin dil, insaan ka hai nahin namo-nishan”
(In this city of building and trams, motorcars and mills, everything is available except a heart and humanity)
“Ai dil hai mushkil jena yahan”
(It’s hard to survive here)
“Ai dil hai aasaan jeena yahan, suno Mister, suno Bandhu, yeh hai Bombay meri jaan”
(O gentlemen, O my friends, living here is easy, it’s Bombay, darling)

On Imaginary Journeys

Paul Theroux mengelompokkan ‘perjalanan khayalan’ (imaginary journey) sebagai sebuah langgam pengembaraan. Mereka adalah para penulis yang menceritakan oleh-oleh pengembaraannya ke alam liyan. Sebagian kisah didasari oleh pengalaman perjalanan pribadi sang penulis. Seperti ruang perpustakaan di University of Toronto yang dijadikan inspirasi The Name of the Rose, Umberto Eco. Sebagian kisah yang lain didasari sepenuhnya dari kemampuan reka-khayali sang penulis. Seperti nasib Karl May yang baru menginjak, melihat dan mencium tanah Indian setelah Winnetou rampung.

Apapun bentuknya, langgam pengembaraan tersebut terus menekan manusia untuk melampaui batas-batasnya. Semenjak Thomas More menulis Utopia di abad ke-16, manusia punya satu kata yang dipakai untuk mengacu pada sebuah perwujudan ‘surga sekular’ yang tak ditemukan di dunia. Foucault kemudian menawarkan heterotopia sebagai sebuah alternatif. Sebuah panggilan untuk membebaskan diri, pikir, dan ruang dari kungkungan otoritas dan represi.

Imajinasi menjadi prisma ‘penglihatan’ kita saat sedang berada di tanah yang asing. Apa yang kita khayalkan mempengaruhi apa yang kita lihat. Kisah-kisah perjalanan khayalan membantu menambah entri kamus tekstual dan visual di dalam otak kita. Perjalanan fisik memindahkan kita secara spasial dari satu teritori ke teritori lainnya. Meskipun demikian, kecenderungan untuk melihat, memperhatikan, dan merenungkan informasi yang masuk lewat penginderaan adalah sintesis dari paradigma. Seperti sebuah peta yang membantu kita membayangkan perjalanan yang sedang kita alami. Seperti pengalaman terdistorsi setelah menonton film Studio Ghibli.

Perjalanan khayalan adalah sebuah kisah yang mampu menggambarkan ruang yang lain daripada yang lain. Ternyata, mungkin ada sesuatu di luar sana.


Dhobi Ghat, Mumbai (2012); picture by Nareswari Anindita

***

Air dan Sanitasi; Siklus Hidup

Ada dua kali jam pengaliran air di flat ini: pertama, dari pukul 6 hingga 8 pagi, dan kedua, dari pukul 6 hingga 8 malam. Total 4 jam air bersih mengalir.

Tiap pukul 6 hingga 8 malam saya mencuci piring, menyiapkan masak malam, mengisi tandon air, mengisi botol-botol air minum dengan kucuran unit saringan-UV. Saya bermain air maksimal 2 jam.

Lalu saya berpikir bahwa jadwal penjatahan air ini ikut menjadi ritme hidup saya. Ritme hidup manusia ‘kota maksimum’, seperti yang diistilahkan oleh Suketu Mehta. Terdisiplinkan oleh tekanan kebutuhan ruang; 2 orang dalam 24 meter persegi. Dengan ruang yang terbatas, saya tak bisa menyia-nyiakan air–atau bocor dan pengalaman genangan di lantai 7 bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Ah ya, ritme hidup yang satu itu tidak terganggu. Air di toilet 24 jam mengalir, baik keran maupun flush. Cukup memanjakan kebutuhan sanitasi (baca: buang air besar dan kecil).

Sekarang sudah lewat pukul 6. Saya harus kembali ke siklus hidup.

%d bloggers like this: