Skip to content

Baseco: Ombak, Debu, dan Udara

by on January 28, 2010

Pandangan umum dapat mengatakan bahwa daerah kumuh adalah tempat yang rawan untuk ditinggali – menjijikan, keras, suram, dan berbagai macam stigma yang lain – namun hidup di Baseco adalah bermain dengan ombak, debu, dan udara. Di atas 52 hektar ‘pulau buatan’ ini, lebih dari 6.000 keluarga hidup tak tentu – tanpa kartu tanda penduduk, sertifikat tanah, rumah yang dibangun seadanya, jalan yang ditimbun dengan bebatuan sisa konstruksi. Kami memutuskan untuk jadi bagian dari manusia yang berdesakan dalam area kumuh ini, setidaknya selama kaki kami masih mampu melangkah dalam perjalanan.

Letaknya hanya 1 kilometer dari Intramuros, kota tua Manila, yang bisa dijangkau hanya dengan mengeluarkan kocek 8 Peso dengan menaiki pedicab. Pada awalnya, pemerintah menyediakan ruang ini sebagai area bongkar muat dan reparasi kapal laut di Manila Bay yang, tentu saja, disertai dengan tempat tinggal semi-permanen bagi para pekerja kerah biru dan putih, termasuk di dalamnya kuli-kuli angkut. “Ketika kecepatan penyediaan layanan publik terlampau lamban dan tidak mampu mengejar pertumbuhan populasi, maka masyarakat secara alamiah menimbuni perairan yang ada dengan perangkat seadanya seperti bebatuan dan puing demi bertahan hidup”, seorang arsitek dan pengajar dari Mapua University menerangkan dalam bahasa akademis tentang proses pembentukan awal wilayah ini. Maka patut dicatat bahwa ‘Baseco’ sesungguhnya adalah singkatan dari Bataan Shipping and Engineering Company, perusahaan swasta yang bertanggung jawab secara parsial atas perubahan wajah rumah panggung di pesisir pelabuhan sehingga tereklamasi secara perlahan tapi pasti.

Gerbang masuk Baseco adalah jalan menyempit di area pelabuhan, tempat pencampuran berbagai macam penduduk yang datang mencari peruntungan di ibukota melalui jalur laut secara inkonvensional dan paralegal. Sebagian besar masyarakat di sini adalah pendatang, hanya sekitar 5% yang dapat dikategorikan sebagai penduduk asli, dan menyimpan banyak penduduk Muslim yang tidak berpreferensi makanan mengandung babi serta membunyikan suara adzan tepat 5 waktu setiap harinya. Untuk anak-anak di bawah 19 tahun, petugas barangay memberikan pengawasan ekstra di atas pukul 10 malam. Sambungan listrik dan air minum ilegal lewat tarian kabel dan pipa adalah hal yang wajar namun menguntungkan – untuk kawasan Asia Tenggara, penduduk Baseco dapat menikmati air keran siap minum hasil jarahan dari Manila Water.

Kepadatan manusia dan tempat tinggal tanpa fasilitas publik yang memadai adalah perpaduan yang tepat untuk kerawanan bencana alam maupun buatan. Kami tiba pertama kali pada tanggal 20 Januari 2010, tepat empat hari setelah kebakaran besar meratakan lebih dari 300 rumah di estuari. Beruntung saat topan Ondoy menerbangkan rumah di Quezon City, salah satu area Metro Manila, Baseco hanya diterpa deru hujan angin. Bagi mereka yang hidup cukup lama, bencana tersebut adalah hal yang memprihatinkan namun tidak lagi mengejutkan karena telah sering terjadi, bahkan kadang beruntun. Pada saat musim menjelang Pemilu Raya yang akan datang pada bulan Mei, lokasi semacam ini adalah ajang donasi sekaligus kampanye berbagai kandidat yang menawarkan bantuan dalam berbagai macam bentuk. Dalam waktu 2 jam, telah datang 3 kandidat berbeda menyalurkan makanan instan, pakaian, dan beras secara berurutan. Janji-janji manis semacam ini cukup dimanfaatkan dengan baik tanpa harus menjadi kerbau dicocok hidung. “Kami akan membangun kembali rumah kami dengan tangan kami tanpa bantuan pemerintah seperti yang selalu kami lakukan”, seorang penduduk yang rumahnya telah habis terbakar mengangkat suaranya dengan nada penuh kebanggaan.

Saat malam yang lebih panjang di bulan November hingga Februari, senja di Baseco adalah salah satu langit terindah. Bermain warna biru muda hingga merah saga ditemani dengan angin yang sejuk.

“Tempat ini dipenuhi banyak manusia bahkan hingga pukul 4 pagi. Jika ingin makan angin, berjalanlah di jalan yang cukup lebar agar merasa aman karena yakin tidak akan tersesat dan selalu diterangi lampu jalanan”, Sandru, sahabat kami yang tinggal di lantai bawah, memberikan petunjuk singkat untuk perjalanan malam. Layaknya area kumuh di negara lain, Baseco pun adalah mikrokosmos di dalam makrokosmos, sebuah kerajaan mini dalam negara – dipimpin oleh seorang Barangay Captain yang bertampang macho dan bertanggung jawab atas kegiatan pemerintahan. Secara komersial, terdapat toko-toko kecil yang menjajakan roti khas Filipina (salah satunya adalah pandisal kesukaan kami) hingga warung makan sekelas pusat jajanan serba ada. Hiburan ‘mewah’ semacam bola sodok, kafe internet, ataupun kelab disko juga ditawarkan. Dalam warna-warni tersebut, kami menikmati malam pertama menjadi salah satu warga Baseco – geliat kehidupan untuk bertahan hidup di kondisi tersulit dalam rimba beton perkotaan.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: