Skip to content

Baseco: Anak-anak Sang Anak Panah Kehidupan

by on January 30, 2010

Mulai pukul 7 pagi, anak-anak tetangga di gang tempat kami tinggal mulai keluar rumah. Kakak-kakaknya yang sudah besar berangkat ke sekolah dan adik-adik kecil berkumpul dengan teman sebayanya, bermain dan berceloteh dalam dinginnya pagi di pelabuhan Manila. Permainan favorit mereka (yang juga paling kami sukai) adalah tumbang priso, berlomba-lomba menjatuhkan kaleng dari jarak 1 meter dengan melemparkan sendal milik orangtua atau kakak mereka. Dan anak-anak selalu menjadi anak-anak. Bermain dengan penuh tawa ceria walau kadang diselingi pertengkaran-pertengkaran kecil – berseteru untuk 5 menit lalu tiba-tiba menjadi sahabat akrab kembali.

Dalam lingkungan yang miris dan terbatas seperti Baseco, anak-anak yang hidup di dalamnya tidak peduli dan merasa kesulitan. Kemungkinan besar mereka pun tidak menyadari bahwa hidup di sekelilingnya adalah kehidupan yang keras.

Tipikal rumahtangga di Baseco adalah keluarga besar dengan rata-rata 5 anak menjadi tanggungan tiap keluarga. “Ini adalah anak ke-tujuh yang saya lahirkan. Seluruhnya sehat-sehat dan lahir dengan kaki keluar duluan”, seorang ibu dengan tersenyum tenang menceritakan proses kelahiran anak-anaknya dan buruknya kondisi kesehatan saat persalinan.

Kematian balita adalah hal yang lumrah terjadi dan dikategorikan sebagai suratan takdir daripada kejadian luar biasa. “Anak ketiga saya baru meninggal dunia tepat setahun yang lalu pada bulan Februari”, dengan ekspresi acuh tak acuh, seorang wanita paruh baya mengisahkan kejadian biasa dalam keluarganya. Ukuran keluarga yang besar di perkampungan kumuh adalah strategi bertahan hidup – menambah jumlah tenaga kerja sehingga meningkatkan penghasilan rumahtangga. Akibatnya, tidak mengejutkan bahwa dalam kerangka survival of the fittest, ada saja satu atau dua anak yang meninggal di setiap keluarga karena gizi buruk, lingkungan tidak sehat, atau gagal lahir.

Anak-anak yang selamat dari kondisi kesehatan yang buruk lalu tumbuh berkembang dengan tanda tanya besar. Hanya sebagian kecil anak-anak yang bisa menuntaskan pendidikan hingga bangku sekolah menengah karena dipaksa atau terpaksa mencari uang. Pilihan kerja yang paling menarik adalah menjadi petugas konstruksi dengan pendapatan minimum per bulan sekitar 9000 Peso (lebih kurang USD 180). Maka, bukan lagi rahasia umum bahwa perkampungan kumuh adalah kantung-kantung tenaga kerja yang dibiarkan miskin sedemikian rupa agar tetap mampu menyalurkan tenaga kerja kasar murah berpendidikan rendah.

Pada satu sore di akhir bulan Januari, kami berhasil mengalihkan perhatian anak-anak dari permainan tumbang priso. Diawali dengan Jay, seorang anak tetangga yang naik ke tingkat dua hanya untuk memanggil kami. Umpan baliknya? Tentu saja, istri saya turun membawa kertas dan pena sedangkan saya mengamati dari dekat dengan kamera untuk mengabadikan setiap detik yang berharga. Sore tersebut berubah menjadi kelas menggambar dengan istri saya sebagai pengajarnya.

Awalnya kami kebingungan dalam penterjemahan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris lalu ke bahasa Tagalog. “Please your  bring paper and pen!”, istri saya memberanikan diri setengah berteriak mengajak anak-anak untuk menggambar dirinya sendiri dan menciptakan pakaian mainan dari kertas sebagai pelengkapnya. Berbondong-bondong anak-anak berlarian ke rumah masing-masing untuk membawa kertas dan alat gambar seadanya. Selama satu jam ke depan, kami menyibukkan diri dengan anak-anak tetangga dengan mata mereka yang berbinar-binar.

Ketika petang tiba dan kelas menggambar usai, istri saya mengungkapkan kebahagiaannya, “Terimakasih telah membawa saya ke dunia anak-anak.”. Lalu saya bertanya-tanya pada diri sendiri – apakah anak-anak ini akan lulus perguruan tinggi ketika beranjak dewasa? apakah yang kami bagi cukup bernilai bagi mereka yang hidupnya keras? mungkinkah kehidupan mereka menjadi lebih baik untuk sepuluh atau dua puluh tahun ke depan sehingga ada kesempatan lebih baik untuk generasi berikutnya?

Baseco mengajarkan kami lebih dari yang kami kira tentang anak-anak dan dunianya. Saya akan selalu teringat akan Kahlil Gibran ketika mencoba memahami alam pikiran anak-anak yang sesungguhnya tidak terjangkau bagi kita yang semakin menua. Lalu tentang masa depan anak-anak, sesungguhnya orang dewasa yang merasa – telah mengerti dunia – tidak tahu banyak kecuali menjaga agar mereka tumbuh besar dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas.

“Anak-anakmu adalah anak panah kehidupan dan engkau adalah busur panah yang merentangkannya terbang jauh”

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable

(Kahlil Gibran, On Children)

One Comment
  1. Jadilah orang-orang yang memberikan nilai positif setiap anak-anak, karena itu lebih baik dan bijak demi masa depan mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: