Skip to content

Slumdog Vacation

by on November 9, 2010

Wisata ke perkampungan kumuh kian populer seiring kesuksesan film “Slumdog Millionaire”. Dari Jakarta hingga Rio, turis mengunjungi bedeng-bedeng reyot dan menyapa kaum miskin yang hidup di dalamnya. Indrawan Prabaharyaka menceritakan bagaimana slum tourism mampu menyentuh sisi kemanusiaan kita.

Jam di tangan menunjukkan pukul 10, waktu normal bagi warga perkampungan kumuh di Jakarta Utara memulai aktivitas rutin mereka. Tapi hari ini ada yang berbeda. Mereka kedatangan tamu. Sekumpulan pelancong berambut pirang menyambangi rumah-rumah mereka.

Salah seorang anggota rombongan bernama Tina, wanita 34 tahun asal Australia. “Di atas kertas saya menemukan informasi tentang Bali sebagai primadona pariwisata. Akan tetapi saya sadar Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang,” ujarnya. ”Saya sengaja datang ke sini untuk mencari tahu sisi lain tentang kemiskinan.”

Paket wisata ini dikelola sebuah LSM lokal yang memfokus-kan diri pada pemberdayaan masyarakat miskin kota. Mereka menawarkan wisata alternatif mengunjungi kawasan kumuh (slum tourism) yang menunya adalah gang becek, bedeng reyot, serta aroma got dan sampah. Dalam tur unik ini, pelancong diajak berinteraksi langsung dengan orang-orang yang selama ini termarjinalisasi dari gemerlap kehidupan urban. “Destinasi”-nya bisa berpindah-pindah, mulai dari kampung yang terimpit jalan tol dan hutan beton, hingga sekumpulan rumah di sepanjang jalur rel kereta atau bantaran sungai.

”Innovate or Die”, begitu judul buku Jack Matson yang kemudian menjadi mantra ampuh di dunia bisnis. Kreativitas melahirkan ide-ide segar menjadi salah satu pelumas yang menggerakkan mesin industri, termasuk pariwisata. Para operator tur dituntut untuk mencetuskan paket-paket inovatif agar para pelancong tak jenuh. Selain tren ecotourism yang menggejala bersamaan dengan isu pemanasan global, slum tourism juga memperoleh tempat baru dalam jagat pariwisata.

Dalam konteks global, kota merupakan salah satu destinasi wisata. Bandara, pelabuhan, atau terminal yang menjadi pintu masuk ke suatu negara biasanya terletak di kota. Begitu pula pusat perbelan-jaan dan theme park. Namun, selain menampilkan ingar-bingar cahaya dan kemutakhiran peradaban, kota juga menyimpan kemiskinan. Saat ini lebih dari separuh warga bumi tinggal di area perkotaan. Urbanisasi dan kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah adalah sebagian pemicu utamanya. Mereka yang beruntung hidup nyaman di rumah permanen, sementara sisanya yang apes terlempar ke perkampungan kumuh.

Ide liburan ke perkampungan kumuh memang belum populer. Slum tourism lahir untuk menyentuh dimensi kemanusiaan kita lewat kontak personal dengan bangunan lapuk dan manusia yang hidup di dalamnya. Tujuannya bukan untuk membuat kita tertawa, tapi bersimpati.

Setelah dua tahun berkubang di perkam-pungan kumuh Jakarta, saya melanjutkan perjalanan ke Manila. Dari atas mal, saya melihat pemandangan yang tak asing: hamparan rumah tidak beraturan seperti sereal di dalam mangkok.

Meskipun tersembunyi dari pandangan umum, hanya berjarak dua kilometer dari kawasan kota tua Intramuros, sebuah kampung kumuh memancarkan cahaya remang-remang. “Akibat ketidakjelasan status kepemilikan lahan, hingga kini kampung ini belum dicantumkan dalam peta kota Manila,” jelas Denis, ekspatriat, mantan pastor sekaligus direktur sebuah LSM, tentang salah satu problem Baseco.

Article published in jalanjalan magazine – 2010

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: