Skip to content

My Top 5 Culture Clashes

by on May 19, 2011

Ini  bulan pertama saya tinggal di Mumbai, Manhattan of Asia. Setidaknya, sampai 1 tahun ke depan saya akan tinggal di sini. Selama itu saya akan berkenalan dan beradaptasi dengan budaya lokal.

Sayangnya, perkenalan dengan sebuah tempat tinggal baru tidak selamanya selaras. Jatuh cinta tak selalu terjadi pada pandangan pertama, begitu pula pada budaya.

Selama 1 bulan, saya mencatat 5 cerita kecil setingkat Gegar Budaya:

1. Klakson dan adat berkendaraan

Perilaku barbar kendaraan bermotor dan pengendaranya di jalanan kota berpenduduk 20 juta ini tak bisa disangkal.

Cobalah eksperimen ini. Naiklah kendaraan bermotor (pribadi atau umum) menuju Victoria Terminus Station sekitar pukul 10 pagi. Nikmatilah simfoni klakson yang memekakkan telinga dengan volume maksimum rush hour. Truk nyaris menabrak motor. Mobil mengklakson gerobak tukang air yang lamban bergerak. Bus diklakson taksi karena berhenti mendadak. Begitu seterusnya dengan berbagai kombinasi irama klakson.

Saya kira seluruh Mumbaikar (panggilan untuk penduduk kota Mumbai) bisa menikmati gaduhnya klakson. Demi menjadi Mumbaikar yang baik, saya mesti belajar sabar mendengarkan suara klakson. Tapi, seorang kolega asli Mumbai berkomentar sinis, “Saya tahu suara klakson di negara kamu lebih beradab daripada di Mumbai.

(UPDATE: Widyastuti mengadakan eksperimen sederhana lain: menghitung dengan stopwatch, berapa detik terjadi kesunyian di sekitar pukul 9 pagi. Rekor: jeda antar klakson tak pernah lebih dari 1.5 menit.)

2. Pertengkaran di ruang publik dan kontak fisik

Sesaat sebelum mencapai perempatan, sebuah sepeda motor dan bus bersalip-salipan ria. Kemudian, datang satu bus lagi ikut balapan tak berhadiah itu. Sepeda motor terhimpit di antara dua bus, seperti hotdog. Selisih beberapa sentimeter saja, sepeda motor akan jadi sosisnya.

Ketika berhenti di lampu merah, seorang pengendara motor turun dan menghampiri supir bus. Pintu bus digebrak. Mereka beradu-mulut, pakai urat. Supir bus yang panas lalu berdiri dan mengacung-acungkan tangan. Tak mau kalah, dashboard juga ia gebrak. Beberapa penumpang ketakutan, berdiri dan berniat turun di perempatan. Lampu hijau menyala. Pepesan kosong selesai.

Wajar jika para pengendara saling berteriak-teriak di jalan akibat kejadian seperti ini. Yang mengkhawatirkan adalah kejadian seperti ini berulang 2 kali dalam 1 minggu. Terlalu sering. Jadi, saya harus bersiap olahraga jantung tiap kali kejadian ini terulang, apalagi kalau ada kontak fisik.

Di stasiun kereta, Widyastuti sempat melihat seorang perempuan ditampar oleh pasangannya di area loket karcis. Saya tidak percaya cerita itu sampai akhirnya menyaksikan seorang ibu menempeleng kepala anaknya sendiri di dalam bus. Tak ada komentar apalagi pertolongan dari orang sekitar. Orang-orang cuma curi-curi pandang.

Ok. Saya harus berolahraga jantung lebih kencang.

3. Spiritualitas jalanan

Negara ini pernah disebut sebagai Hindustan, Tanah Hindu. Agama yang dilakoni dalam pengabdian kepada Tuhan, Dewa-Dewi, atau Orang Suci (yang dianggap sudah setara Dewa). Tak hanya itu. Hindu adalah adab keseharian yang dihayati sebagai pembentuk identitas penduduknya, seperti Shinto atau Kong Hu Cu. Meski ada penduduk yang beragama Islam atau Kristen, identitas mereka tak bisa tercerabut dari akarnya.

Puja dalam bahasa Hindi berarti doa, sembahyang, atau bagian dari ibadah. Salah satu bagian dari puja adalah penempatan representasi Tuhan, Dewa-Dewi, atau Orang Suci. Representasi bisa dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Representasi itu lalu berlomba mengisi trotoar jalanan kota, tak peduli apa agamanya.

Shree Sai Baba Shirdi adalah Orang Suci yang mangkat di Era Modern, pada awal abad ke-20. Poster dan patungnya sangat mudah ditemukan di banyak tempat.

Sebuah Masjid berdiri membelah jalan. Mungil dan sendirian. Setelah adzan, suara imam dari pengeras suara beradu dengan deru kendaraan bermotor yang lalu-lalang di kanan-kirinya.

Salib beton di altar kecil berdiorama Yesus di  sebuah pertigaan. Lengkap dengan cawan untuk air doa.

Semua agama konon ada di kota ini. Agama setua Zoroaster atau Jain masih punya pemeluknya di kota ini. Bagi para pemeluk, pemujaan masih terus berjalan. Dan kota ini membiarkan spiritualitasnya bekerjasama dengan jalanan.

4. Makanan (dan bumbu)

Ada dua jenis makanan: vegeterian dan non-vegetarian. Orang-orang lebih banyak makan sayur atau buah daripada daging, atau tidak makan daging sama sekali. Kalaupun ada daging, harganya lumayan mahal. Saya pernah membeli chicken nugget vegetarian dan kecewa karena rasanya kacang polong, tak mirip ayam sama sekali.

Nasi bukan makanan pokok. Menu standard harian seorang kolega adalah makan pagi chapati, makan siang chapati (lagi), dan makan malam nasi. Beras yang dipakai jenis Bhasmati, bentuknya lonjong-lonjong.

Telur yang dijual di pasaran bentuknya kecil serupa telur ayam kampung. Jika didadar, warna telur tak berubah jadi kuning atau kecoklatan. Rasa putih telurnya juga sangat kuat.

Saya termasuk pemilih buat urusan perut. Akibatnya, tanpa sadar, saya mengurangi porsi dalam menu makan sehari-hari. Porsi daging jelas berkurang paling drastis, penghematan bulan pertama. Sehari makan nasi sekali karena siang lebih pilih makan roti atau pisang. Apakah hidup seperti ini lebih sehat? Yang pasti, berat badan saya sudah turun, nyaris drastis.

5. Meludah 

Sang Agen Flat datang mengecek Surat Perjanjian Sewa. Setelah saya persilakan masuk, dia memegangi dagu dan bibirnya dengan tangan kanan, seperti cungkup. Tangan kirinya dia pakai membuka sepatu.

Euaiteamoinet,” katanya sambil memanjangkan rahang bawah, menggelengkan kepala, menunjuk mulutnya dan jendela kamar secara bergantian.

“What? What did you say? What happened actually?”

Dia tak menjawab pertanyaan saya. Dia hanya berjalan cepat menuju jendela yang tidak saya tutup.

Sang Agen menjulurkan kepalanya. Mulutnya menyembul dari sela-sela teralis. Dia lalu melepehkan ampas paan berwarna merah pekat dari jendela lantai 7.

“CUH. CUH. CUH.”

Entah kena helm pekerja konstruksi yang mana di site sebelah.

Dia membalikkan badan menghadap saya sambil menampilkan wajah tanpa dosa.

Saya lalu bertanya padanya, “What did you say before?”

“Wait a minute,” jawabnya santai. “Before talking to you, I need to throw out paan.”

Sang Agen Flat memang hobi mengunyah paan. Paan bisa dikunyah tapi tak bisa ditelan. Setelah tugasnya selesai, harus diludahkan.

Di tembok-tembok atau tiang listrik, kadang ada percikan merah tua kecokelatan yang mengering. Maka, dapat dipastikan bahwa tempat itu baru disembur ampas paan oleh seseorang.

Saya akan kenal budaya baru lebih dalam lagi di bulan-bulan ke depan. Catatan: perbanyak belajar dari hal-hal yang tidak saya mengerti dan tersembunyi.

PS: Hari ini, penduduk ‘India’ menyebut negaranya sebagai Bharat, nama Sanskrit untuk benua Asia Selatan atau merujuk pada keturunan Bharat dalam kisah Mahabharat(a). Panggilan ini adalah cara mengurangi potensi konflik agama yang makin besar.

PSS: Nanti, setelah keliling kota dengan kamera, saya akan lengkapi dengan foto-foto. Semoga bisa ditunaikan!

This site serves as repository of unfinished, half-finished, or residual of my pieces of mind.

From → India, Mumbai

3 Comments
  1. Salam kenal, Kakak.

    Saya pernah bekerja di state Bihar, daerah Patna dan sekitarnya, dan sering harus travel di dalam mobil. Rute jalan yang sama bisa ditempuh dalam 5 jam atau 10 jam tergantung dari hari dan waktu keberangkatan. Luar biasa!

    Membaca blog ini membuat saya sedikit kangen dengan suasana India yang penuh warna. Ternyata, pengalaman mengenai klakson, kekerasan fisik dan ramainya altar-altar di berbagai sudut kota tetap sama, meskipun Mumbai dan Patna adalah dua kota yang sangat berbeda. Beradaptasi dengan budaya lokal memang sebuah challenge tersendiri, but it was a truly rewarding experience.

    Bahkan, supervisor saya menceritakan sesuatu yang menarik. Di sudut-sudut ruangan atau tangga di setiap public building biasanya ditempel dengan gambar-gambar religius, mulai dari dewa-dewi Hindu, Buddha, bahkan gambar Yesus. Lalu saya bertanya apakah masyarakat di sana memang sebegitu religiusnya? Lalu dia menjawab, sebenarnya dulu sudut-sudut ruangan tersebut adalah tempat favorit bagi orang-orang setempat untuk meludah. Makanya, pemilik bangunan menempel gambar-gambar religius tersebut supaya orang-orang enggan meludahinya. Menarik sekali di mana poin 3 dan 5 ternyata memiliki hubungan yang tidak dinyana🙂

    Saya enjoy membaca tulisan-tulisan kakak. Selamat berpetualang dan saya tunggu post berikutnya!

    • Hi Mel,

      Maafkan baru dibalas commentnya. Saya terlampau lembam untuk mengurusi blog.

      Aha! Memang ludahan paan (sirih) itu super spektakuler. Ada yang menggunung di beberapa pojokan flat. Yang paling miris: saat monsoon dan air meluap, maka kita tak bisa menghindar berjalan dalam air yang bercampur ludahan tersebut… Sigh.

      Terimakasih sudah menikmati tulisannya! Hope can meet you in random places!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: