Skip to content

Kabar dari Mumbai #08: Pengalaman Menyogok Pertama Kali

by on May 31, 2011

Sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kartu kedatangan, penduduk asing dengan visa valid lebih dari 180 hari harus melapor ke Foreigner Regional Registration Office (FRRO) selambat-lambatnya 14 hari setelah ketibaan.

Kantor FRRO Mumbai terletak di dalam kompleks Kepolisian Kota, institusi yang menaungi urusan pendaftaran makhluk asing ke Mumbai.

Sebagai penumpang negara orang yang kurang berbakti, kami sengaja tak sengaja menerlambatkan diri untuk melapor ke FRRO.

Hari ke-20 setelah ketibaan, kami baru datang ke FRRO dan menemukan kantor yang kosong melompong. Ternyata, hari itu Pegawai Negeri dan Polisi diliburkan sebagian untuk Hari Raya Waisak (?). Kami pulang dengan tangan hampa.

Hari ke-22 setelah ketibaan, kami naik ke lantai 3 untuk ikut bagian dalam barisan antrean orang-orang asing. Setelah lebih kurang 40 menit, tibalah giliran kami. Ternyata, syarat katebelecenya kurang lengkap. Kami kembali pulang dengan tangan hampa, berikut senyum nyinyir sepanjang jalan.

Hari ke-27 setelah ketibaan, kami kembali mengantre dan tersenyum lega (sesaat) saat berkas-berkas administrasi dinyatakan lengkap. Sang petugas pemeriksa kelengkapan lalu memberikan nomer meja dan giliran antrean. Kami diarahkan masuk ke ruang sebelah untuk mengisi borang elektronik dan mencetaknya.

Di kursi ruang tunggu, kami menunggu giliran ‘verifikasi dan validasi ulang berkas-berkas’ bersama rupa-rupa pemegang paspor. Awalnya menarik memperhatikan dan berbincang dengan orang-orang asing dengan nasib serupa kami. Setelah dua jam berlalu, rasanya membosankan juga.

Bel elektronik berbunyi. Kami duduk di depan meja sesuai nomor yang diberikan petugas sebelumnya.

“Let me check this first,” kata sang pemeriksa sembari membasahi jari-jarinya dengan ujung lidah dan membolak-balik setumpuk berkas yang kami serahkan dengan jarinya yang sudah agak kuyup.

“Oh. You are so late. This is not good. It is too late. You might get fine for at least 7000 Rupees” dengan nada intimidatif sang petugas memberikan vonis dendanya sambil sesekali melirik mata kami.

“Could you help us?” tanya Widyastuti.

Sesi tawar-menawar dibuka, seperti pembeli di pasar tradisional.

“Tell me how I could help you?” sang petugas mencoba menawarkan barang dagangannya.

“Could you reduce the fine?”

“How much would you offer to me?”

“1000 Rupees?”

Sang petugas memicingkan mata.

“No. It’s too little.”

“2000 Rupees?”

“Ok. Put the money inside an envelope or something and give it to me later after lunch.”

Tawar menawar selesai. Besarnya denda berkurang dari 7000 jadi 2000 Rupee – jumlah uang yang masuk ke dompet pribadi sang petugas pemeriksa.

Proses registrasi yang berbelit-belit itu selesai juga. Birokrasi kompleks.

Ini pengalaman menyogok pertama kali kami di India. Lain kali, kami harus berdandan lebih miskin agar para petugas lebih ngenes melihat penampilan kami.

“You will be charged a fee, which varies depending on which country you are from, it can range from a couple of hundred Rupees to thousands of Rupees if you are from the UK or Israel.”

Kutipan dari http://frro.in/

From → India, Mumbai

One Comment
  1. Fitorio Leksono permalink

    Well, berdasarkan dari cerita ini si petugas yang jarinya kuyup itu menyangka kalian either dari Israel atau UK🙂

    Memang harus berdandan lebih miskin hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: