Skip to content

Joburg #01

by on May 27, 2012

Dua bulan lewat sudah semenjak pertama kali mendarat di OR Tambo. Selama itu, banyak yang saya mulai fahami dari kota ini. Ritme dan perilakunya.

Ini yang terjadi dan terangkumkan dalam dua bulan.

Tercatat, angka kecelakaan kendaraan bermotor yang terlalu tinggi. Satu orang staf patah tulang rusuk dan satu orang kolega sejurusan masih menjalani fisioterapi. Konon, setidaknya satu dari tujuh orang di Joburg mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. (Bahkan ketika saya sedang memulai mengetik posting ini, sebuah mobil baru saja nyungsep di semak-semak yang berseberangan jalan dengan pagar wisma.) Menghindari kecelakaan secara statistik adalah insentif untuk membatasi penggunaan kendaraan bermotor, memprioritaskan berjalan kaki, dan menghemat pengeluaran.

Soal kriminalitas, seorang kolega kemalingan ponsel dan seorang lagi ditodong di perjalanan pulang dari kampus. Keduanya merasa kehilangan tapi makin lama makin reda. Keduanya merefleksikan bahwa insiden tersebut adalah bagian dari adaptasi hidup di kota ini.

Semua itu terjadi dalam dua bulan.

Mungkin itu yang dirasa oleh para alien di kota ini. Terasing dalam xenofobia individualis oportunistik.

Saya menyerap paranoia dan menerimanya sebagai pengalaman keseharian.

Surga di pojokan Joburg: Modderfonteinspruit

Surga di pojokan Joburg: Modderfonteinspruit

Neraka yang menggoda

Neraka yang menggoda

Paranoia yang berbanding terbalik dengan Modderfontein, sebuah kawasan konservasi di area perkotaan. Di pojokan Joburg, ada hutan berikut wetland dan sungai. Damai. Takjub. Sekaligus absurd. Di luar sana, dunia ramai oleh kecelakaan kendaraan bermotor dan kriminalitas.

Sebelum menjadi kawasan konservasi, Modderfontein adalah area industri eksplosif yang mendukung industri pertambangan. Sekarang, sebuah perusahaan properti memiliki lahan kawasan konservasi seluas 275 hektar tersebut.

Perusahaan properti dan konservasi adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. Sama seperti kecelakaan kendaraan bermotor dan kriminalitas yang berbanding terbalik dengan ketenangan di hutan kota.

Seperti surga dan neraka yang berdampingan dan tercampur di satu ruang yang sama.

Mungkin itulah ritme kota ini. Pertentangan: mesin pembuat mimpi bagi warga kota.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: