Skip to content

Banjir: Kenyataan Di Layar Televisi dan Jalanan

by on January 20, 2013

Tulisan ini dibuat pada tanggal 17 Januari 2013, setelah banjir besar menenggelamkan Jakarta dan saya mengelilingi kota dengan sepeda.

***

Pertanda nyata bahwa banjir besar akan menghampiri Jakarta mulai nampak pada hari Minggu, 13 Januari 2013. Menurut pengamatan Badan Sumber Daya Air, tinggi muka air di Bogor sudah melampaui 200 meter, atau Siaga 1.

Bila air di hulu (Bogor) sudah sebegitu banyaknya, hanya masalah waktu, kapan air kiriman tersebut akan sampai hilir (Jakarta). Kombinasikan prakiraan air kiriman dari hulu dengan ramalan cuaca yang memprakirakan bahwa hujan akan konstan mengguyur Jakarta selama seminggu ini. Maka, kemungkinan besar air bah akan segera menggenangi Jakarta.

Semalam hujan rintik-rintik. Pagi hari, suara hujan masih juga terdengar dari dalam kamar.
Kemudian, ada yang aneh dari ritme kerja para penyewa kamar yang lain. Biasanya, pukul 6 terdengar suara langkah-langkah terburu-buru. Hilir mudik bergiliran keluar masuk kamar mandi. Bersiap tampil rapi sesuai citra korporat dan mengejar jam absen.
Pagi ini, sepi. Hanya suara hujan.
Ada yang tak biasa.

Menyalalah televisi berita yang kemudian menjelaskan alasan ketidakbiasaan pagi ini: “Jakarta terkepung banjir”, begitu kata mereka. Berulang kali disiarkan Bundaran Thamrin dan Hotel Indonesia yang tergenang air kecokelatan hingga lebih dari 60 cm. Berulang kali disiarkan masyarakat yang sibuk mengevakuasi diri dari kampung-kampung di dataran rendah seperti Kampung Melayu atau Rawajati. Berulang kali disiarkan tingkah polah para birokrat, mulai dari Presiden yang kebingungan karena kedatangan tamu diplomatik dari
Argentina, hingga sang Gubernur idola, Joko Widodo yang masih gemar blusukan. Dengan diselingi wawancara dengan rupa-rupa manusia, mulai dari orang biasa sampai Direktur perusahaan selular, narasinya serupa: “Darurat Banjir!”

Tapi, media massa bukanlah kenyataan. Televisi berita menyiarkan narasi yang terencana, tentunya dengan bias ideologis masing-masing. Maka, di tengah hari yang mendung, berputarlah roda-roda sepeda. Kenyataan di media massa mesti diperbandingkan dengan kenyataan di jalanan. Dan sang sepedalah kendaraan yang setia menyusuri jalanan,
mencari-cari kenyataan. Tujuannya: menuju Utara Jakarta, dataran terendah dari kota di bawah permukaan laut.

Dimulai dari Karet hingga Tosari, halte Transjakarta sebelum Bundaran HI. Sepeda tak bisa melintas karena sudah nampak jelas genangan air yang merendam Bus Transjakarta yang gagal jalan. Orang-orang justru berkumpul di sekitaran lokasi banjir. Berpacaran di
atas sepeda motor. Berfoto dengan latar belakang banjir. Atau anak-anak yang sekedar bermain-main air.

Sepeda kembali bergerak mencari jalan berputar;
Dari Tanah Abang lalu menyusuri Wahid Hasyim hingga sampai arah Jembatan Lima, pasar plastik tersohor di Jakarta. “Air sudah setinggi leher,” kata seorang laki-laki yang biasa disebut sebagai Pak Ogah. Sepeda pun bergerak menuju Glodok. Gagal. Air mencapai 50 cm juga di perempatan Gajah Mada – Stasiun Kota. Sepeda tak menyerah mesti sempat terendam air di jalur Transjakarta (yang sudah ditinggikan dibanding jalan raya biasa).

Arah Pasar Baru lalu menuju Gunung Sahari – Kemayoran. Gagal juga.
Arah Pasar Pagi lalu menuju Pasar Ikan. Lebih parah.
Baik jalan raya maupun jalur tikus sama-sama terendam.

Ini dia beberapa perbandingan kenyataan di televisi dan jalanan:

1. Banjir dinarasikan sebagai sesuatu yang selamanya merugikan, terutama secara ekonomis.

Bagi para makhluk korporat yang bekerja di Sudirman-Thamrin-Kuningan, kehilangan penghasilan adalah sesuatu yang merugikan. Tapi ada juga yang bersuka cita dalam banjir. Anak-anak dan remaja yang bermain-main, misalnya. Banjir mengubah jalanan menjadi anarki. Kendaraan bisa berbalik arah sesuka hati. Bisa menembus lampu merah. Orang-orang bisa berkeliaran di jalanan.

Banjir menggelitik kenyataan sosial yang terlupakan: orang-orang rindu beraktivitas di ruang publik. Dan sesungguhnya ruang publik sangat mampu berjalan beriringan dengan pencegahan banjir.

2. Banjir dinarasikan sebagai duka bagi masyarakat, yang diwakili oleh sebagian kecil sampel.

Betul bahwa banjir adalah duka bagi masyarakat. Tapi, masyarakat yang mana? Televisi menyiarkan Kampung Melayu, yang sudah menjadi langganan banjir sedari dulu kala.
Lalu masyarakat Utara Jakarta yang sesungguhnya lebih berduka, terlupakan. Akses ke Kampung Melayu, misalnya, masih terjangkau dari beberapa alternatif jalan. Sedangkan akses ke Utara Jakarta nyaris lumpuh total.

Apakah karena Utara Jakarta berisi bangunan tua yang kalah berharga dibandingkan gedung-gedung menjulang di Segitiga Emas?
Apakah karena Utara Jakarta berisi masyarakat berpenghasilan sangat rendah yang kalah penting dibandingkan banjir di Bundaran HI, yang notabene berada di hadapan mall megah?

(Di akhir pekan baru diberitakan besar-besaran korban banjir di Utara Jakarta, Penjaringan misalnya. Keadaannya lebih tragis. Ada yang terperangkap banjir sejak hari Kamis dan tidak ada perahu karet untuk evakuasi. Rumah sakit kehilangan energi dan alat-alat medis tak berfungsi sehingga membahayakan pasien dalam kondisi kritis.)

3. Banjir dinarasikan sebagai wadah berbagai elemen untuk bekerja sama bahu-membahu.

Berbagai aparatus pemerintah diturunkan untuk menghadapi banjir: mulai dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) hingga tentara. Mereka bekerja untuk berbagai fungsi: mulai dari evakuasi hingga pengamanan. Tujuannya: mengayomi masyarakat di daerah yang terendam banjir.

Sementara, ada pula masyarakat yang jadi oportunis. Sebuah bangunan kantor di daerah Pasar Baru, misalnya, menggunakan pompa untuk menghisap air dari basement, lalu dibuang ke jalan raya. Di perempatan Gajah Mada – Stasiun Kota, para Pak Ogah mengarah-arahkan kendaraan untuk berbalik arah menghindarkan banjir dan meminta uang dari kendaraan tersebut. Mengapa para aparatus tak mengantisipasi distorsi negatif dari masyarakat oportunis?

Sepeda lalu berjalan pulang menuju Matraman, Menteng, hingga akhirnya kembali ke Karet. Sempat nampak juga, Bendungan Hilir yang terendam banjir di perjalanan pulang. Masih, pertanyaan-pertanyaan tak henti menggaung.
Banjir, komoditi macam apakah ini? Sejauh mana selisih kenyataan di layar televisi dan jalanan? Apakah ini berarti kita sama-sama kebingungan?
Bila semua bisa dijual, maka banjir pun bisa jadi barang dagangan.

From → Uncategorized

One Comment
  1. Ah! media menarasikan berita terkadang hiperbolis😦,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: