Skip to content

Mengenang Mandela

by on December 6, 2013

Mandela adalah orang besar di Afrika Selatan. Tak heran bahwa tiap hari ia bisa jadi bagian obrolan ringan sampai diskusi serius. Kemarin, dalam sebuah Pertemuan Pascasarjana, ada sebuah diskusi tentang Afrika Selatan, era Pasca-Apartheid, dan, tentu saja, Mandela.

Pertanyaan pembuka dalam diskusinya kira-kira seperti ini. Mengapa, berbeda dengan sebagian besar negara di Afrika, para bule bisa tetap bertahan di Afrika Selatan dan bahkan dikategorikan sebagai ‘bule pribumi’?

Benar bahwa Mandela berjasa besar dalam rekonsiliasi nasional. Begitu juga de Klerk, Presiden bule South Africa terakhir. Tapi di atas itu semua, desakan internasional yang berpengaruh besar dalam wacana rekonsiliasi dan membentuk gerak sejarah.

Sebagian besar negara di Afrika dan Asia telah merdeka duluan pasca Perang Dunia II. Pasca kemerdekaan, para bule meninggalkan mantan koloni dengan sukarela atau mesti terusir oleh kebijakan nasionalisasi. Saat itu, kepergian dan pengusiran para bule adalah sesuatu yang lumrah diterima sebagai bagian dari nation-building.

Rezim Apartheid di Afrika Selatan berakhir di awal dekade 90-an ketika wacana Hak Asasi Manusia telah menjadi corak dari tata kelola dunia. Atas nama HAM, kepergian dan pengusiran para bule tidak lagi dapat diterima oleh dunia internasional. Para bule dan negro mesti menerima pandangan dunia internasional tersebut bila ingin mempertahankan kedaulatan negaranya. Maka, dari sudut pandang Historical and Political Institutionalism, rekonsiliasi nasional di Afrika Selatan tidak bisa direduksi sebagai jasa Mandela seorang.

***

Tadi malam, Machaya, seorang kawan dari Zambia yang sama-sama berkuliah di Afrika Selatan, mengetuk pintu kamar saya untuk menyampaikan sebuah berita getir: Mandela baru saja meninggal dunia.

Bukan hal yang mengejutkan karena Mandela telah dirawat intensif di Pretoria selama beberapa bulan terakhir.

Tapi tetap saja saya tak bisa menahan sedih. Dan saya meneteskan air mata di tanah Mandela.

Terlepas dari peran Mandela dalam rekonsiliasi Afrika Selatan, ia telah mengajarkan pada dunia tentang maaf dan berhati besar.

Seperti obituari yang ditulis oleh Presiden Ghana: “if we were to move beyond the divisiveness caused by colonization, and the pain of our self-inflicted wounds, compassion and forgiveness must play a role in governance.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: