Skip to content

Introducing: Peter and John

by on March 16, 2014

Selain sebuah apologia, posting ini juga bercerita tentang kehidupan saya di Afrika Selatan.

Saya bukan penulis yang baik dan rajin. Selain karena rendahnya bakat menulis saya, blog ini sudah terbengkalai sekian lamanya karena beberapa hal.

Pertama, perhatian saya yang utama tersedot oleh tesis. Sepanjang proses penulisan tesis, saya dilecut habis-habisan oleh (para) pembimbing supaya tangkas dan gesit menulis dalam Bahasa Inggris. Pelajaran paling berharga dari proses penulisan tesis ini adalah: saya tidak akan pernah bisa berbahasa Inggris secara formal baik secara verbal maupun tekstual dan pencapaian terbaik saya (yang lebih fasih berbahasa Sunda atau Jawa) adalah pidgin atau creole. (Salah satu konsep dalam tesis saya adalah informalitas, dimana saya menyarikan istilah-istilah informal dalam pengelolaan air bersih di Jakarta. Pada titik itu saya semakin menyadari jurang linguistik antara peraturan-peraturan formal dan bahasa informal yang digunakan masyarakat sehari-hari. Mungkin di lain waktu saya akan membahas ini secara khusus.)

Sebagai sebuah bentuk dedikasi pada dera lecutan yang sudah membekas pada diri saya, maka saya tawarkan penulisan dwi-bahasa mulai dari posting ini. Namun, saya mohonkan maklum sedari mula bahwa tulisan saya dalam Bahasa Inggris hanyalah pada tingkatan pidgin atau creole.

Kedua, tak seperti di Mumbai, kehidupan saya di Afrika Selatan semakin jauh dari tajuk blog ini: pengembara kumuh (slum traveller). Saya tinggal di wisma dalam kampus di pinggiran Johannesburg, kota yang tersegregasi ketat secara rasial di era Apartheid. Daerah tempat tinggal saya, Ruimsig, adalah bekas tanah-tanah milik kulit putih yang mulai beralih guna lahan dari farming ke permukiman generik kelas menengah khas area suburban. (Bayangkan lagu Little Boxes, pembuka seri Weeds, dan hamparan perumahan seperti di Agrestic. Ya, perumahan di Ruimsig mirip seperti little boxes tersebut. Bedanya, satu kompleks dengan lainnya terpisah oleh tembok tinggi dan kawat bertegangan tinggi.)

Selain itu, sejujurnya tahun pertama saya tinggal adalah tahun paranoia. Saya mempersepsikan Johannesburg sebagai kota yang sangat menakutkan dan penuh kriminalitas: kecelakaan kendaraan bermotor, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, dst. Saya tak khawatir blusukan kampung kumuh di Jakarta, Manila, atau Mumbai karena saya kenal budaya mereka. Sementara, saya sama sekali tak kenal budaya Afrika dan kulit hitam.

Ketiga, semenjak dua tahunan terakhir, saya mengembangkan kebiasaan baru yang sangat menyedot energi saya: berolahraga secara teratur, untuk hidup yang lebih baik. Tahun pertama adalah tahun yang sangat sulit karena saya tak pernah berolahraga setiap hari kecuali pada saat ospek, dan momen-momen penyiksaan lainnya semasa kuliah di kota Bandung. Di tahun kedua, saya mulai menemukan ritme yang sesuai dan, bahkan, berolahraga adalah salah satu cara ampuh membunuh paranoia saya.

Di tahun kedua saya memutuskan membeli sebuah sepeda, menamainya Charlize, dan menganggapnya sebagai sahabat baik saya. Kemudian, saya mulai memetakan tempat tinggal saya. Ternyata, selain perumahan generik kelas menengah dan peternakan kuda dan burung unta, kampus ini dikelilingi oleh kawasan perumahan elite yang diistilahkan sebagai golf houses karena mengelilingi padang golf, wetland (ini tempat yang paling menyenangkan dan sejuk untuk berlari), tambang, dan, ditengah-tengahnya, sebuah permukiman ilegal.

This is the ostrich farm. (Although I am not keen on ostrich meat)

This is the ostrich farm. (Although I am not keen on ostrich meat)

The wetland. (Ain't this a good place for outdoor running?)

The wetland. (Ain’t this a good place for outdoor running?)

Tak seperti perkampungan kumuh di pusat kota (seperti Jakarta, Manila, atau Mumbai), permukiman ilegal di sini berukuran lebih besar (ada yang seukuran rumah orangtua saya di Bandung) dan ditinggali tidak hanya oleh buruh migran dari luar provinsi, tapi juga dari luar negeri (seperti Zimbabwe atau Lesotho).

Maka, saya mengakhiri posting ini dengan sebuah pengantar untuk posting berikutnya: tentang Peter & John, dua orang sahabat baru saya yang tinggal di perkampungan kumuh tersebut.

Introducing: Peter and John

Introducing: Peter and John

***

Else than an apologia, this posting is about my life in South Africa.

I am not a good writer nor a diligent one. Else than the lack of my writing talent, this blog has been neglected for some reasons.

First, I was consumed by my thesis. During the course of thesis writing, I was whipped by my supervisor(s) to be agile in writing in English. The most valuable lesson from the process of thesis writing is: I (who know more about Sundanese or Javanese) will never be able to speak and write in English formally. At best, I can only do pidgin or creole. (In my thesis, I discuss about informality in which I distill informal terms in Jakarta water supply management. At that point, I realize the linguistic gap between informal rules and everyday languages. Maybe I will discuss about this specifically later.)

As a dedication to the whip marks, I offer bilingual posting from this point. Nevertheless, I hope that it can be accepted although my writing in English is still at pidgin or creole level.

Second, unlike Mumbai, my life in South Africa takes me further from the theme of this blog: slum traveller. I live in an on-campus accommodation in the periphery of Johannesburg, a city that was racially segregated in the Apartheid era. My milieu, Ruimsig, is former white lands that are spatially converting from farming to generic middle-class housings typical of suburban area. (Imagine Little Boxes, the opening of Weeds series. Yes, the housings in Ruimsig are similar to those little boxes. However, here, each complex is separated to the other complex by high walls and high voltage electric security fencings.)

Else than that, honestly my first year was the year of paranoia. I perceived Johanesburg as an unruly city full of criminality: high road accident, rape, burglarly, homicide, etc. I feel safe when I was in slum settlements of Jakarta, Manila, or Mumbai because I am, at least, familiar with the cultures. Meanwhile, I had no clue at all about African/black cultures.

Third, since the last two years, I develop a new habit that greatly consume my energy: regularly working out, for a better life. My first year was a very difficult year since I never workout in daily basis except for some events in my undergraduate in Bandung city. In the second year, I started to find the rhythm and, furthermore, working out is a potent method to kill my paranoia.

In the beginning of the second year, I bought a bicycle, I named her Charlize, and took her as a cavalier. Then, I mapped my milieus. Apparently, else than generic middle-class housings and horse stables and ostrich farming, this campus was surrounded by elite housings called ’golf houses’ since they were surrounding golf ranges, wetland (this is a very nice place for running), a mining, and, amidst those places, there were squatter camps.

Unlike slum settlements in the city centers (e.g. Jakarta, Manila, or Mumbai), the housings in those squatter camps are considerably larger (some of them are larger than my parent’s house in Bandung) and there were not only migrant workers from other provinces of South Africa, but also from neighboring countries (i.e. Zimbabwe or Lesotho).

Unlike slum settlements in the city centers (e.g. Jakarta, Manila, or Mumbai), the housings in those squatter camps are considerably larger (some of them are larger than my parent’s house in Bandung) and there were not only migrant workers from other provinces of South Africa, but also from neighboring countries (i.e. Zimbabwe or Lesotho).

Therefore, I end this posting as an introduction to the next posting: on Peter and John, my new two friends who live in those squatter camps.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: